Archive for April, 2008

Ape aran tresne

Wednesday, April 30th, 2008

Sopox jelo lex dalem sekolahan Inax guru nyengke ngajahang. Inax guru becerita masalah taoxte idup, gumi paer dait khewan pepe. Base ite manuse agente pade beriuk jagax titipan De Side Nenex Sax Kuwase  sine. Selapuxte wajib tresne tipax selapux ruen sax arax lex gumi ape sax idup ape sax mate.

Selun selun sekex kanak pejonjong imen terus beketowan; ” Inax guru ape jax sax te paran tresne sino?”. Tadah taget Inax guru six peketowanan kanak kodek, laguk sengke ne boyax jawaban sax pas dait umur kanak sax barux kelas empat SD.

Bareh julux tatix, te sugul julux bekedek, agen side pade seger, ente te lalu ojox kebon deket kokok sino ongkat Inax guru. Dateng lex taox sax kenax, te barisang kanak sino terus Inax guru ngembeng perentah; “kanak kanak nani side pade lalo boyax ape sax side paran cocox jari tekumpulang lex kelas te, ngerti?”. ” Ngerti” sorak kanak kanak sino terusne kelap perarikne tame kebon. Endex arax 10 menit begerundaxan ye pade tulax pete gurune. Sopox sopox te surux maju six Inax guru. “Ape jaux side pade, lapur sekex sekex, siap?” “Siap”

Murid pertame jaux kembang sampixne muni” Inax guru aku maux kembang sax cocox jari pas meja”.  Bagus, ongkat inax guru.  “Aku maux kupu-kupu cocok jari koleksinte lex lemari kace sine” ” Ine anak kedit baungku pas ye gerix olex lolon jewet ” ongkat sax lain.

Selapuk murid wah maju karing sekex kanak nine, tedox bae ndexne mele muni. Inax guru langsun beketowan lex muridne,: Inges, ape jaux bi, makat bi tedox doang, tatix?”

Kemos dait ilax kanak nine sino, ngene ongkatne,; Inax guru, aku wah demak kembang sino, kesolah ruene dait maix gati sengehne, jari ndexku polak ye, sengax bagusan lamunne terus sebarang sengehne, dait seke mekar kembangne. Wah sino gitakku iwok iwok, ke solah keletekne, bewarne warne dait rengas (lincah) kekelepne. Aku adexang ye bae adexne terus bebas. Terus aku lampax kugitax anak kedit gerix, pas ku demax ye, periak atengku gitax inan kedit sax ngendeng asek, langsung ku taekang tipax  kesebune. Inan kedit sino demen gati ye.

Nani sine, aku masih ngambu sengeh kembang sino, aku endah ngidap bebasne iwok iwok sax kekelep lito lite lex kembang sax luwex terus meno juax,… o gamax,… inan kedit sax periak lex anakne sax gerix sino, idapku asex iroxne.

“Lagux Inax guru, berembe ntanku jax petitox selapux sax aku jaux sine?” beketowan kanak sino. Inax guru beang angke sax paling atas tipax muridne sax bau nerangang baturne sekelas. Base ite manuse sine selapuxte ngerasax tersene sax te sebox lex atente mesax.

Wallahualambissawab

Sak Ikhlas
Hazairin R. JUNEP

IA RATU LABA TG

Wednesday, April 30th, 2008

Assalamulaikum WR WB

IA RATU LABA TG

Jangan tercengang dulu dengan judul tulisan ini, karena apa yang akan dipaparkan tidak berkaitan langsung dengan ekonomi atau MLM yang banyak ditekuni mahasiswa dan akhirnya kebanyakan gigit jari itu.

IA RATU LABA TG adalah singkatan dari Inax Amax Raden Tuan Lalu dan Baix, begitu semeton! Penting kita susuri asal usul sebutan yang sangat akrab di telinga dan dekat dihati bangsa Sasak. Mengingat bahwa  sepanjang diskusi di sesangkok KS ini terus menerus disinggung mengenai salah satu sebutan sasak itu, karena ketidak jelasan asal usulnya.

Dalam surat surat pribadi yang menjawab pertanyaan perorangan di KS  pernah saya ungkapkan serba sedikit soal itu tapi tidak menyeluruh. Kali ini semoga tak ada yang terlewatkan setidaknya untuk singkatan  yang disebut dalam judul ini.

INAX

Saya pernah berdiskusi dengan Bapak Sumenggep mengenai hierarki kebangsaan bangsa Sasak dan beliau mengutip penjelasan Lalu Sahak seorang budayawan Sasak (Ayahanda Lalu Satriawan) di Selong. Beliau  mengatakan bahwa hierarki kebangsaan Sasak yang tertinggi adalah Inax dan Amax. Pernyataan itu memprovokasi saya untuk mencari lebih jauh dan lebih jauh mengenai dari mana Bangsa Sasak mewarisi kedua sebutan istimewa itu. Dalam kisah dan dongeng dongeng Sasak yang paling kuno, semuanya bercerita tentang keberadaan Inax sekenox dan Amax sekenex (Inax dan Amax fulan). Tidak ada kisah yang menyebut nama nama yang kemudian kita ketahui seperti Raden lalu dan Baix.

Sebutan Inax ternyata terkait langsung dengan sejarah yang sangat kuno yaitu dari bangsa Sumeria yang hidup antara 3.500 - 2.500 SM. Bangsa ini mewariskan kebudayaannya kepada bangsa bangsa yang sekarang hidup di Timur Tengah. Bangsa Sumeria adalah bangsa yang sangat maju budaya dan bahasanya. Mereka memiliki seoarang Dewi yang disebut Inanna. Dewi kesuburan ini adalah Dewi yang banyak  disembah di zaman purba dengan nama nama berlainan sperti Ishtar, Asshtoreth, Isis, Aphrodit dan Venus.  Di Nusantara Dewi ini disebut dewi Sri.

Bagaimana bangsa Sasak dapat mengambil nama Dewi Sumeria itu tentu sebuah perjalanan sangat panjang. Bangsa Nusantara diketahui berasal dari anak benua India dan Yunan di India belakang sekarang wilayah  China. Melalui Bangsa Greek dan Romawi kemudian Persia dan India lagi mereka menyerap atau mewarisi, bukankah mereka adalah hasil akulturasi berbagai bagai bangsa dunia?

AMAX

Sebutan ini jauh lebih gampang sejarahnya dibanding Inax karena asal katanya mudah ditebak yaitu dari Bahasa Sanskerta, Kama yang berarti sperma. Dari kata kama ini lahirlah berbagai kata turunan seperti  Amax, Amix kemudian jadi Mamix. Bandingkan dengan kata mama (ibu) yang artinya susu kemudian menjadi mami. Dan jangan lupa orang Sasak suka mengatakan O Gamax… yang artinya aduhai Ayah!, Atau alangkah…, betapa…dst.

Kedua sebutan Inax dan Amax adalah warisan paling kuno yang dimiliki Bangsa Sasak maka itulah sebabnya oleh Lalu Sahak dikatakan sebagai hierarki tertinggi. Nama itu adalah simbol dewi dan dewa yang
dihormati bangsa Sasak kuno ketika mereka masih menyebah Roh.

TUAN dan RADEN

Di zaman feudal sejak sebelum berdirinya kerajaan Hindu di Nusantara, masyarakat hidup berkelompok dengan pemimpin mereka yang mengatur sebagai tuan tanah. Dalam bahasa Sanskerta Rahadian berarti tuan. Kata Tuan belakangan muncul karena berasal dari bahasa Nusantara dengan berabagai varian bunyi seperti Tun, Teuku, Tengku dan Tuang. Orang Sasak sangat aneh dalam mengambil sebutan itu. Mereka dapat dengan mudah menepelkan Tuan sebagai maksud seseorang telah menunaikan ibadah haji. Maksudnya adalah karena mereka ingin disejajarkan dengan Tuan tanah atau Rahadian yang dihormati itu. Sudah dapat hadiah sebutan Haji di Mekkah khusus bagi jamaah yang datang dari negeri yang jauh sekali. Di Lombokpun masih diberi gelar Cuma Cuma sebagi Tuan hatta mereka tidak punya tanah.

LALU

Sejarah sebutan ini agax suram tetapi coba kita perhatikan, bahwa rahadian itu berasal dari tanah Jawa tadinya hanya sekedar sebutan tetapi oknum tertentu mencantelkan sebutan itu tanpa malu malu sebagai
tambahan pada nama mereka. Setelah berakhirnya kerajaan kerajaan kecil Lombok yang kental akan  pengaruh Jawa terutama dan Bali, maka orang Sasak mulai membuat sebutan sendiri. Tentu tidak dapat menggunakan Tuan karena mereka bukan tuan tanah tetapi sebagai keturunan orang terhormat yang sudah
hilang kesaktiannya perlu mencantelkan sebutan tertentu. Dapat diapastikan ide itu datang dari keturunan para rahadian itu. Ingat Rahadian belum tentu raja. Maka proses kreatif mereka melahirkan sebutan LALU yang mencerminkan sebutan LA dari Ibu karena sebutan perempuan adalah La atau Le dan Lu dari sebutan Ayah karena laki laki disebut LU atau kemudian LOX. Demikianlah sekarang kita mendapati banyak orag Sasak menggunakan nama LALU.

BAIX

Sebutan untux seorang perempuan yang mengalir darah keturunan ditubuhnya tidak diambil dari bahasa Sanskerta umpamanya Empu atau dari bahasa melayu Puan. Karena orang Sasak juga memiliki warisan dari
bagian lain Asia yaitu Persia (Asia Barat). Di Negara Asia barat dan tengah ada satu sebutan yang popular yaitu Bay atau Beg (Bek) artinya Tuan. Dapat dilihat pada nama orang India dan Pakistan dan Uzbekistan
serta Asia Tengah Lain, menggunakan Bay atau Beg diakhir nama mereka. Sebagai bukti kuatnya warisan Persia kita bisa mendapatkan gambar Buraq di desa desa Lombok. Mereka adalah bangsa yang paling awal
datang ke Nusantara untuk menyebarkan Islam. Mengingat kebiasaan Orang Sasak yang dalam hal menyebut istrinya sebagai epen bale atau empu rumah atau yang punya rumah, maka  terjemahan kata itu adalah Tuan juga. Dengan senang hati mereka menempelkan sebutan Baix tetapi tidak dibelakang  melainkan didepan namalah dicantelkan.

TG

Seperti diuraikan dibagian TUAN dan RADEN bahwa orang Sasak senang main comot dalam menyebut orang, maka sebutan Tuan yang tadinya untuk Tuan Tanah (Rahadian) serta merta dicomot untuk menyebut siapa saja yang dihormati seperti kasus penyebutan haji menjadi Tuan itu.

Salah satu dari orang yang sangat dihormati di masa lalu adalah Guru. Orang Sasak yang polos itu juga langsung menyebut Guru mereka dengan Tuan sebagai wujud hormatnya. Yang celaka adalah baik Haji maupun Guru orang Sasak itu sama polosnya atau nakalnya dengan mereka tiba tiba dicantelkan juga sebutan itu sebagi bagian dari nama mereka baik resmi apalagi tidak resmi. Mungkin daripada orang tidak tahu bahwa oknum tersebut dihormati lebih baik mendahului menulis pengumuman dengan menambah nama di depan sebagai Tuan Guru dan Haji lagi. Kalau diterjemahkan maka artinya si fulan dengan titel itu adalah seseorang yang dihormati yang pekerjaannnya mengajar dan pernah bepergian jauh titik!

Soal titel titel itu bukan hanya kebiasaan Bangsa Sasak di kampung saya yang waktu pertama kali saya datang tidak ada TPA, sekarang bergelimpangan orang muda dengan sebutan KH padahal orang itu sekolah
saja tidak becus… Kiyai adalah sebutan untuk orang yang dianggap bisa berbuat sesuatu. Waktu ada acara kumpul kumpul dan diperlukan seseorang untuk membuat kata pengantar, maka peserta kasak kusuk  menunjuk seseorang dengan berkata iki ae! Iki ae! Capek capek ngomong berubah jadi kiyae! kiyai!  Artinya,ini saja atau dia saja… pada pertemuan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya orang yang sama
ditunjuk dengan omongan yang sama, setelah ingatan memudar orang itu mencantelkan sebutan di depan namanya Kyai tentu dengan ewoh pekewoh beberapa hari sesudah itu jadilah….KH artinya ini lo orang yang  sudah bepergian jauh….kalau perempuan mula mula disebut Nyah e! Nyonya ini! Lama lama jadi Nyai deh….

Ternyata hanya seperti itulah manusia, mengambil apa saja untuk menambah sesuatu, maksudnya agar tambah tinggilah martabatnya…usaha yang sia sia Martabat tinggi berarti setia menjaga harga diri dan punya rasa malu, kata Inax Amax kita.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf

Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP

SKAR dan DIU

Thursday, April 24th, 2008

Assalamualaikum WR WB

Sudah berpuluh tahun bangsa Sasak bersepakat menggunakan simbul lumbung padi sebagai mascotnya. Mascot diambil dari semangat hidup bangsa Sasak yang lekat dengan alam pertanian. Kepribadian bangsa
Sasak tergambar dari Lumbung yang menyimbulkan sifat sifat yang hati hati, menjaga keamakmuran dan kesejahteraan material dan ruhaniah.

Lumbung adalah tempat menyimpan makanan dan terdapat berugax dimana keluarga besar sangkep atau sebagai tempat menerima tamu. Makna Lumbung tidak hanya sekedar menyimbulkan tempat menyimpan padi tetapi juga pusat aktifitas social keseharian Bangsa sasak.

Akhir akhir ini ada usulan mengenai perubahan simbul untuk mascot itu menjadi Skardiu. Mari ikita lihat apa dan siapa Skardiu itu. Nama Skardiu berasal dari dua kata Sasanskerta Skar yang berarti kembang dan Diu berarti dewa atau langit. Sesungguhnya Skardiu adalah kuda tunggangan biasa, tentu yang kualitasnya bagus. Karena yang menunggang adalah seorang pemimpin seperti Amir Hamzah atau orang Sasak menyebutnya Amir Amsyiah.

Penggambaran kuda yang dapat terbang adalah untuk memberi kekutan luwih atau supernatural kepada pemiliknya yaituAmir Hamzah itu. Skardiu digambarkan sebagai campuran kuda semberani atau kuda troya  dalam mitologi Yunani dan Liong atau naga China. Ditambah pula dengan kisah tentang Buraq.

Dalam kisah wayang Sasak, sosok Wong Menak alias Amir Amsyiah disebut sebagai amiril mukminin yang memimpin pertempuran melawan para penentang Islam. Sebenarnya penggambaran itu sangat keliru karena
Islam tidak memerangi (bukan inisiator) tetapi membela diri karena diserang terus oleh musuhnya yang anti Islam itu.

Campuran mitos mitos multinasional itu membuat sosok Skardiu menjadi misterius. Memang itu yang dikehendaki oleh para penyusun cerita dalam wayang menak itu. Ada banyak ironi dalam presentasi sastera lewat wayang itu, disatu sisi ingin menyebarkan Islam yang berlandaskan ketauhidan dan rahmatan lilalamin, disatu sisi menyebarkan ajaran yang penuh takhyul sebagai tercermin pada sosok Amir Hamzah yang terus menggempur musuh dan menunggang kendaraan misterius bernama Skardiu.

Tiap bangsa di dunia selalu berusaha menggambarkan dirinya dengan membuat mascot yang sekiranya mewakili karakter tanah air dan bangsanya. Bangsa China menggunakan Panda, Bangsa Thailand  menggunakan Gajah, bangsa Jepang dengan Bunga Sakura dan bangsa Indonesia dengan burung Elang besar yang disebut garuda meniru mitologi Hindu. dsb.

Sekarang ini bangsa Sasak entah semua tahu atau tidak bahwa mereka digambarkan sebagai masyarakat makmur sejhtera (rahayu) melalui gambaran berupa Lumbung padi yang sekali lagi tidak hanya merupakan
tempat penyimpanan padi tetapi sebagai pusat aktifitas sosial keluarga dan masyarakat.

Apakah mascot lumbung yang sangat realistis itu dapat digantikan dengan mudah oleh sosok khayalan bernama Skardiu alias Kembang Dewa. Sebuah tantangan yang sangat berat ke masa depan. Karena pada saat
kita herus membangun masyarakat kita secara lebih realistis justeru kita dihadapakan pada cara berfikir ala dewa dewi.

Demikian dan maaf,
Wallahualam bissawab,

Yang ikhlas,
Hazairin R. JUNEP
(bekas pekatik)

Kemarau panjang di Lombok

Sunday, April 20th, 2008

Kemarau panjang di Lombok paling lama tambah 2 bulan saja karena musim hujan mundur sampai desember yang seharusnya oktober sudah mulai basah. Kejadian itu sudah sejak zaman dahulu sebagai efek perubahan
iklim oleh meningkatnya suhu laut di pasifik.Tapi khusu mengenai apa yang diceritakan Yus adalah sebuah senepa (sindiran) bahwa Gumi Selaparang tanpa datu benar2 terasa panas leteng (tiada tentram) di hati warganya. Bayangkan situasi sesudah jatuhnya Pak Harto, setelah meletus G30S PKI dan sesudah kerusuhan2 yang beruntun di Lombok. Keadaan sangat memeperihatinkan. Di Lombok ini sepanjang sejarahnya, banyak mengalami khaos (kerusuhan) karena selalu terjadi ketidakadilan dimana-mana.

Meskipun kemarau hanya tambah 2 bulan tapi keadaan geografis Lombok yang cendrung kering dapat memusnahkan harapan panen. Karena padi zaman dahulu panennya 6 bulan. Kalau air menghilang pada bulan ke 5 saja pasti gagal apalagi sebelumnya. Dari pengalaman gagal mencapai umur itu, orang Sasak mempunyai kebijakan memanen hijau padinya kemudian padi disangrai lalu ditumbuk. Beras sangrai itu sangat wangi dan sedap tapi tak mencukupi kebutuhan karena kurang sekali.Maka mereka mengkonsumsi semua umbi2 an,seperti uwi, sudax dan bahkan gadung atau nasi kering yang disangrai. Dahulu nasi keringnya juga sedap karena padinya bermutu sehingga nasi tidak basi. Tidak seperti nasi aking zaman kini yang cocok untuk pakan babi saja.

Beberapa kali bencana gunung meletus, tapi belum pernah besar sekali sampai menelan banyak korban. Kalau dilihat dari potensi alam Lombok dengan jumlah penduduk yang sedikit tidak seharusnya terjadi  kekurangan pangan karena hasil panen tiap tahun melimpah. Saya ingat waktu kecil, lumbung kami penuh untuk waktu satu tahun dan masih separuh ketika kami menebar benih di musim tanam berikutnya.  Kelemahan orang Sasak adalah dalam hal penanganan paska panen. Itu tidak hanya di sektor pertanian, perikanan juga masih seperti itu. Dahulu para nelayan adalah orang yang paling pertama menikamti segala fasilitas terbaik karena kalau panen uang melimpah dan dipakai untuk memborong apa saja dan ketika paceklik barangnya tidak laku dijual. Begitu setrusnya sampi bertahun tahun.

Kelak akan terjadi bencana yang lebih besar berupa kerusushan lagi disebabkan oleh ketidak adilan lagi. Kemiskinan yang dipelihara bahkan jadi proyek baik oleh pemerintah atau LSM akan membuahkan bencana yang tak terperi.

Mari kita berjuang menyelamatkan Bangsa Sasak dari ancaman dahsyat kerusuhan (khaos) yang pasti akan terulang itu, dengan memikirkan dan berbuat hal hal kecil yang mengarah pada pembangunan harkat  martabat Bangsa sasak.

Islam mengajarkan kita berfikir sederhana, bertindak sederhana dan hidup sederhana. Berfikir sederhana yaitu memikirkan hal hal yang dapat kita mengerti dan sekiranya dapat dilaksanakan menurut kapasitas
kita. Bertindak sederhana berarti memberi solusi kepada suatu masalah dengan kemampuan yang ada. Hutang tak boleh diselesaikan dengan hutang baru. Kemarau dapat diatasi dengan menanam satu pohon di pekarangan rumah misalnya atau menggali sumur resapan. Dan hidup sederhana adalah menjaga keseimbangan kebutuhan fisik dan rohani. Hidup hedonis harus dihindari, anak2 tidak seharusnya diberi fasilitas berlebih. Bagaimana mungkin orang pergi haji sedangkan masyarakatnya sangat terbelakang?
Kalau jujur dan taat pastilah uang tak akan cukup untuk bayar ongkos haji, karena sedekah, infak dan zakat untuk menyelamatkan manusia jauh lebih utama.Bukan kah haji itu dapat diumpamakan atap bangunan? Belum bikin fondasi rumah dengan baik kok atap dipasang, ya ambruklah…

Bencana yang datang tak dapat dihentikan tetapi ia dapat dicegah dengan berjuang dan bersahabat dengan alam semesta dan penghuninya.

Itulah prinsip Rahmatan lil alamin…

Wallahualambissawab

Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Bebeyax luar biase

Sunday, April 20th, 2008

Ulexne sekolah, Le Petimah sax barux siwax taon umurne, langsung plai tame bale, besalam lex inax terus cerewet becerite. “Inax ngonex kelemax ye pade becerite pekare bebeyax umur empat ahad sax kowat nyusu. Beratne berombox telu kilo sejelo”

Inax gorap otak anakne, lasingan cerite sino ye gasal gati, lagux muni ye,” Ceritem sino ndexne kenax tatix”.

Le Petimah nerusang ceritene,” Lagux inax, ye tetu tetu sine, ku terusang sekecot, bebeyax sino te beng nginem susu gajah”.

Sekene bengax inaxne, muni ye,” Inges, dengan sax becerite sino ye polox olox kamu. Susu gajah ndexne inix jax berakibat dahsyat marax meno”.

Le Petimah sax menge gati otakne, masine sambung ceritene,” Percaye bae inax, ine tetu tetu arax”.

“Lah…gasal gati, tulen cerite gasal, anakku” metelah seberax. ” Lagux lex keluargan sai taoxne arax bebeyax sax luar biase jelapne belex sino?”

Le Petimah kemos demen dait ne terangang inaxne,” Lex keluargan gajah meno, lex kebon khewan inax” ongkatne terus ne mangan jangke besoh.

Glosarium;
Ahad – minggu
Gasal- ganjil
metelah- break, istirahat