Archive for the ‘budaya’ Category

MESOBE

Friday, February 29th, 2008

MESOBE

Parek bao daye,
inax amax beriuk betaletan

Mbot rerebu sax tiox,
Lex selak antap, ambon, lembain

Lex rau tetalet pengarep,
tunasang te icanin rezeki

Selapux tiox beramban,
bepesex marax angin

Ye sino sax te anti,
selapux semeton jari

Lex rau te mesobe,
te pade gati tunax male

Kanak sax plai,
bejorax dit begejuh

Ye sino tetunjang,
lemax bian jelo

Lex rau tetalet angen,
agen te pade patut

Gumi paer taox te arax,
te beng six papux balox

Lex rau te jagax anak jari,
pasu boyax ilmu

Ye sino Sasak sax mule jati,
agen solah aran bangse

Jogjakarta,29.02.08 jam 10.39 WIB

Hazairin R. JUNEP
———————————-

NB. Ini adalah tulisan saya dalam base Sasak yang pertama, mohon
sarannya, terima kasih.

Bunyi glottal saya tulis dengan x untuk membedakan bunyi yang khas
Sasak itu dengan K atau Q. Sengaja tidak menggunakan q karena masih
ragu…

mA LING

Monday, February 18th, 2008

Jam diding menunjukkan Waktu Indonesia Tengah, 14.10. Aku bergegas memasuki ruang pengambilan barang. Bandara Selaparang ini kecil, dalam bayanganku tak lebih luas daripada Rambang. Seorang porter mendekatku seraya menawarkan untuk mengangkut lagez  katanya. Aku menaruh  tas punggungku di atas kereta barang yang dibawa sembari menunggu barang bawaan yang dimasukkan satu persatu pada ban berputar. Aku menunggu cukup lama, kulihat tag didada porter tertulis Johan.

Aku memanggil namanya, Pak Johan? Kata ku. Dia menoleh dan menyahut dalam bahasa Inggris. My name is John katanya dengan logat Sasak. Aku terkejut dan langsung meminta maaf juga dalam bahasa Inggris. I am sorry, mata ku agak bolax so I can’t see clearly!. Mr. John, are you from Australia?. Oh no, I am  Sasak Beleg, Sir!  Timpalnya. Lamun meno kataku, aku mau ke WC. Nggih?. John terkejut, ada pemegang paspor asing pakai bahasa Sasak.

Keluar dari WC John telah siap mendorong kereta keluar menuju parkiran taksi. Aku menengok nengok kea rah deretan mobil, ada satu kijang super aku lihat yang agak bersih. Aku Tanya orang yang berebut menawarkan mobilnya, dimana sopir kijang itu.

Seorang  memanggil, “Lal kau dicari!”, tahulah aku nama sopirnya si Lal. Aku mengajak John ke kijang itu dan menaikkan barang. Lal siap membuka pintu, aku mengangsurkan uang 30 ribu kepada John. “Thank you Sir! Eh tampi asih mix!” serunya girang.

Aku duduk di belakang sopir dengan tas punggungku, aku sudah sepakat dengan Lal, ongkos mobilnya 300 ribu sehari, terserah aku pakai sampai jam berapa tapi maksimal 10 jam. Aku menghitung perjalanan ke Selong tentu hanya satu sampai satu setengah jam. Aku melihat barisan TNI AU di lapangan luar Bandara. Mereka ini yang sering ku dengar menebaki petani miskin yang mengerjakan lahan kosong di sekitar markas mereka. Karena para petani menganggap lahan mereka belum pernah dijual atau TNI yang merasa telah membeli. Masing masing dengan pembela dan alat bukti yang sama kuatnya.

Aku minta Lal membawaku melintas jalan bypass dan masuk kota Ma Ta Lam,  dan aku melintas ke timur lewat Pa Chang dan masuk ke Chak La. Kecil sekali ibu kota gumi  Selaparang. Gedung yang besar hanya Bank Indonesia dan kantor gubernur bentuknya seprti Lumbung padi pada brosur  iklan wisata yang beredar di Eropah. Punya lumbung sebesar iru tapi de dipannya orang dasan menderita busung lapar. Itu aku dengar dari Radio BBC. Sampai hati orang yang duduk sebagai kepala suku enak-enak makan sedang rakyatnya busung lapar. Kelak di akhir zaman meski mulut bungkam kaki dan tangan akan bicara membongkar kebobrokan akhlak manusia…

Sampilah aku di dekat Taman kecil bernama Ma Yu La,  taman kebanggaan orang Lombok ini milik umat hindu. Kelak aku akan ke situ kalau sudah berta’ziah kepada leluhurku di Labuhan Haji. Mobil melaju ke Nal Ma Ta dan terus ke Tha San Te Leng..

Aku terkejut setengah mati. Tas punggungku  sobek agak lebar di sisi depan. Aku periksa tasku dan Aduhai, satu tas kecil lenyap. Aku kehilangan uang dan tiket pesawatku.Untunglah paspor telah aku keluarkan dan aku masukkan saku celana kalau-kalau ada pemeriksaan. Aku teriak; “ Lal, balik ke Bandara!, aku kehilangan”.Sambil aku tunjukkan tasku yang sobek. Lal ngebut kembali ke Bandara dan kami mencari porter bernama John.

Aku mencari dan menanyakan ke mana-mana tak ada yang tahu John disitu. Satpam bilang tak ada yang bernama John disitu. Aku bilang ciri-cirinya : Pendekar  Belt! Pendek Kekar dan Bedeng Leteng!. Satpam geleng-geleng, katanya tak ada petinju bekerja disitu.

Aku kecapaian, pihak Garuda bilang, mungkin hilangnya di Jakarta. Mustahil, aku selalu menggendongnya kemana-mana dan aku tidak berhenti waspada. Yah aku harus relakan saja. Beberapa ratus Euro dan mata uang Amerikaku biar dipakai  makan si Pendekar Belt dan keluarga besarnya. Mudahan dia itu salah satu yang berjiwa Robin Hood, yang mencuri untuk dibagikan orang miskin. Aku harus sabar dan rela karena aku juga punya misi perdamaian ke tanah leluhurku. Dengan kehilangan ini semoga Allah memberiku kemudahan.

Aku dan Lal tancap gas kembali ke timur, aku menikmati pemandangan sepanjang  jalan di daerah Loteng yang kering,tapi disitu tumbuh subur tembakau kelas dunia. Meski aku sudah tak merokok sejak 20 tahun silam aku masih ingat rasa tembakau KESTURI yang dibawakan seorang teman yang pernah ikut rombongan turis ke Lombok di awal 80 an. Rasanya manis dan hampa. Aromanya lebih cendrung seperti bahan aroma terapi. Memang sebenarnya tembakau adalah bahan obat untuk terapi tetapi lambat laun manusia melak osok jadi adiktif dan menjadi penggila temabakau. Maka selain karena Ekex- pengotor dan  melut- tidak disiplin, tembakau adalah penyebab segala penyakit orang Sasak. Sering penyakit saluran pernapasan yang akut sampai TBC merajalela  menghantam sebagian besar nonperokok. Penyebabnya tak pernah ditangani tapi ribut mengobati penyakit yang selalu datang lagi. Satu batang rokok kretek dapat membunuh 10 ribu sel di tubuh manusia. Kun Mu Gawe, Kun Mu Dapet, Mu rasax -Apa yang kau tanam itulah yang kau panen, kata orang  Siren.

Kao Fang hanyalah terminal kecil tapi mesjidnya megah sekali, meski kosong tanpa aktifitas sore itu. Perbatasan Loteng terlihat diantara pucuk bambu, memasuki Lotim dikanan jalan ada telaga, aku ingat waktu kecil suka mencebur di telaga kecil di persawahan desa Pe Ne Tha, tak jauh dari Labuhan Haji, telaga yang penuh dengan kepiting air tawar dan di selokan berpasir udang air tawar sama banyaknya dengan pasir itu. Tapi kolam ini sama sekali tak berair, hanya ditengahnya ada rumput yang sedikit menghijau dan seekor sapi kecil sedang merumput disana.

Aku memasuki Te La La, tidak banyak kulihat pembangunan, hanya gedung sekolah dan kantor pemerintah di sisi kiri kanan jalan. Setelah itu aku baca pelang besar di depan masjid yang lebih megah dari sebelumnya MASBAGIK di peta bapakku tak ada kota ini.Apa dia lupa menuliskannya. Lal Bilang ini pasar penting untuk ternak di Lotim. Memang Bapakku pernah cerita kalau di Lombok Timur  peternakan sapinya unggul, karena Orang Sasak memelihara sapi dengan kasih sayang melebihi kepada sesama manusia. Tak heran disana berkumpul sapi-sapi paling berat se Indonesia. Untung belum pernah seorang zuhudpun memimpikan 7 sapi gemuk memakan 7 sapi kurus di Selaparang ini.

Bapakku pernah wanti-wanti berpesan kepadaku, bahwa aku hendaknya berlapang dada kalau sampai di Gumi paerku. Beliau membuatkan aku peta yang mirip-mirip jauh dengan peta buatan ahli kartografi professional. Petaku ini lebih mirip oktopus atau gurita. Maka supaya lebih menarik aku beri mata di Sambelia dan Tanjung Gunung. Mata gurita ini ku beri warna hitam dan merah dipinggirnya. Kaki-kakinya aku perpanjang semenanjung yang menjorok ke arah Australia adalah kaki  kirinya yang panjang , Ekas kaki tengah dan Aan,  kaki kanan yang panjang smenanjung Selong Belanak. Jadilah oktopusku dengan titik sepenuh badannya. Tiap titik besar Bapakku menuliskan dengan nama-nama Tiong Hwa semua desa besar di Gumi Selaparang. Banyak Tempat yang aku tak tahu nama sebenernya. Karena sudah tebiasa bicara dengan nama logat Cina akupun merasa lebih dekat dengan menyebutnya secara demikian.

Bapakku meminta maaf saat mulai cerita tentang tanah leluhurku itu. Dia katakana bahwa aku tak boleh berubah sedikitpun dalam hal menyayangi, menghormati bangsaku sendiri. Diantara ceritanya, beliau menyebut bangsaku sebagai orang –orang polos dan baik hati. Mereka akan mengabdi pada orang yang dipercaya dan tak akan berkhianat sampai kiamat. Kesholehannya termasyhur sampai ke negeri yang jauh. Keberaniannya menentang ketidak adilan dan penjajahan adalah yang paling menonjol di seantero Nusantara. Lihat berapa Jendral Belanda yang dikubur di Chak La.

Saat menceritakan sisi gelap Orang Sasak, Bapakku bicara perlahan dan sedih. Bahwa diantara para Sasak yang digdaya, satria dan polos itu ada berkeliaran maling, rampok, pencoleng dan penipu. Janganlah kau memandang rendah bangsamu sendiri dengan adanya orang jahat seperti itu, nasihatnya. Jagalah kebeningan hati dan kejernihan pikiran, seperti aku baca dalam riwayat Nabimu yang hebat itu, ikutilah Beliau , lanjutnya. Bapak dan Ibuku adalah penganut Kong Fu Chu, yang meyakini Kong Fu Tse sebagai Nabinya. Mungkin itu adalah salah satu dari 125 ribu nabi yang ada di dunia ini.Ya, orang yang sabar adalah kekasih Allah. Allahlah yang menuntun aku dalam jalan ini. Karena 17 kali sehari aku meminta jalan lurus dalam shalat wajibku. Allah pasti membimbingku.

Aku tiada khawatir mengenai orang jahat, waktu aku kuliah dahulu, pernah aku membaca statistic mengenai ragam penghuni sebuah kota atau desa atau dasan sekalipun. Meski itu didasarkan pada penelitian di barat tentu tidak terlalu jauh bedanya dengan di timur. Dikatakan  bahwa ada 2% penduduk yang jahat dan 2% pula yang baik sekali. Dari tiga juta orang Sasak dalam angka, diujung ekstrimnya yang diatas ada 2% orang Zuhud dan diujung lainnya ada 2% raja diraja Maling. Kita ambil yang agak ke tengah tentu di bawah orang zuhud ada alim ulama dari yang paling sholeh sampai kiyai atau ustad yang tukang jual ayat. Kalau kita mulai dari bawah lalu ke tengah  sesudah raja diraja Maling tentu ada pencoleng, penipu dan koruptor dari yang kakap seperti yang bercokol di pemerintahan dan dewan, PNS yang menerima suap dalam proyek kecil seperti pengadaan alat kantor,  sampai guru yang mencuri kecil-kecilan dan bolos mengajar. Yang paling besar jumlahnya tentu kelompok munafik yang pergi ke masjid 5 kali se hari untuk senam. Mereka ini masuk ke wilayah mana saja untuk memuaskan nafsunya.

Kalau ada mahasiswa statistik yang menghusukan meneliti fakta-fakta itu niscaya semua orang Sasak jadi mukmer dan nyebox dirix karena sungguh mengerikan keadaan masyarakat yang sesungguhnya. Itulah alasan utama orang-orang zuhud  menarik diri dari pergaulan tanpa menghilangkan kewajiban sosialnya.

Aku membuka kembali catatan nama-nama orang ada nama Amax Rumiah, dia ini seorang kurier pemberani yang bertugas mengangkut barang kiriman dengan cikar jalur Rarang hingga Labuhan Haji. Amax itu juga tukang masak nomor wahid. Ada juga  La  Sitah perempuan penjual makanan di pasar Selong. Aku akan mencari mereka atau setidaknya keturunan mereka yang pasti sekarang hidup di Selong atau sekitarnya. Nama Cina ada catatan dua bersaudara Yok Mbing dan Yok Oncen yang punya pabrik minyak kelapa di Labuhan Haji dan Gedung bioskop di Selong. Semoga aku dapat bertemu keturunan orang –orang itu

Aku meneruskan perjalanan lewat Kla Yu dan Tan Chung, bapakku bilang di dekat  Tan Chung ada Te Los yang terkenal dengan dukun saktinya. Nanti akan aku cari tahu apakah dizaman ISO 9008 masih ada orang Te Los yang main kelenik begituan. Akhirnya aku liat sayup jembatan kecil, mungkin aku ada disekitar Sisix tapi aku tak melihat tanda-tanda sebuah bekas ibu kota disitu. Mobil melintas jembatan, sungainya berair keruh penuh sampah pelastik. Aku minta Lal menghentikan mobil di kanan jalan.

Lal memarkin mobil dekat sekali dengan Bong Cina (makam Cina). Aku mencari –cari makam dengan nama yang aku kenal tidak satupun aku temukan. Hanya bebeapa yang masih utuh. Jauh dari sana ada bagian khusus untuk orang Sasak dan aku masuk. Dengan suara pelahan sekali aku berucap, “ Assalamualaikum Ya Ahlil kubur”, akupun sedang menanti waktu untuk sampai ke tempat kalian. Semuanya makam baru tak ada sisa makam lama, karena orang Sasak taat agama mereka tidak membangun makam.

Aku tertunduk dan berdoa disudut timur makam. Pao Fang Fang,  hanya rimbun daun bambu dan pokok kelapa disana-sini. Tak ada rumah di dekat situ. Hanya lapangan agak keseberang. Kosong dan agak kecoklatan. Burung-burung  petux dan berugax mencari makan. Ada kambing terikat di sudut lapangan dan dua tiang gawang masing-masing di ujung  sini dan sana.

Aku berdoa dengan syahdu selama satu jam aku disana. Doaku buyar ketika angin menyapuku dengan keras, daun-daun bambu menerpa wajahku seakan menyambutku kembali ke tanah tumpah darahku.

Tak ada kota yang indah seabagai dalam bayanganku. Toko-toko apalagi. Penduduk saja tidak ada. Aku memberi isyarat pada Lal agar menungguku disana. Aku berjalan sendiri sampai batas paling jauh lapangan itu. Sebelum perumahan sederhana di kanan jalan  ada bekas-bekas puing tapi tak terlihat seperti puing kota Pecinan yang dahulu pernah berjaya sebagi pusat urat nadi perekonomian Gumi Selaparang.

Hari mulai senja, aku minta Lal mengantarku ke Dermaga. Lal agak bingung dengan permintaanku maka aku bilang pantai. Sesampai di pantai aku melihat kesenyapan yang tiada terperi. Kotor  dan tidak terawatt. Jalan beraspal memang membentang dari utara ke selatan. Tapi tak ada bunga dan pohon penghias atau peneduh. Seekor anjing kampung yang buduk lari kea rah sepuluhan perahu yang diparkir dipasir pantai. Tak ada anak bermandi, airnya kotor dan bersampah. Di gubuk yang tak berdinding aku lihat anak-anak bermain kartu, seorang anak yang matanya buta sebelah tertawa dengan badulan dua batu baterei mengantung di telinga kanannya.

Aku harus segera mencari losmen untuk istirahat. Lal membawaku kembali ke Pancor. Aku menginap di losmen yang kecil dan tak reperesentatif. Tapi tak boleh ada keluhan, ini adalah tanah airku. Aku Shalat malam dengan rasa syukur bahwa aku telah sampai di Gumi Selaparang. Dimana kau berpijak disitu langit dijunjung. Hujan emas dinegeri orang hujan batu di  negeri sendiri, lebih baik negeri sendiri. Aku masih akan tinggal disini setidaknya 3 bulan sesuai visaku. Aku akan berusaha walaupun ada hujan batu. Besok aku akan mencari lagi orang-orang yang ada dalam daftar itu, meskipun aku harus menjelajah semua wilayah di peta oktopusku. Kenalilah dirimu agar engkau dapat mengenali Tuhanmu. Ya aku sedang mencari jati diriku.

Jogjakarta, 18 Feb. 2008 jam 10.40 WIB

Yang Ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Mana Kapal terbangku?

Saturday, February 16th, 2008

Dahulu sekali ketika Pak Bedor menjajakan bakso sambil memukul mangkok, keliling dari kampung ke kampung. Harga baksonya hanya Rp.10,- dollar amerika mungkin Rp.200,- saat itu.Kalau direktur BRI, mengundang orang-orang berpakaian rapi makan malam, kulihat mereka makan mi instant, yang masih langka di masa itu. Aku tahu semua karean aku anak kecil yang senang bertualang.

Masjid kebanggaan warga Selong hanya satu yang besar yaitu Masjid Mbung Papak. Desa khusus kota Selong, seperti disebutkan oleh tokoh penting saat itu, Bapak HM Amin Shaleh, dibagi beberapa dasan dan ada dua mbung papak, timur dan barat. Bagi orang Kampung Jawa dan Kampung Sembilan, kami penduduk mbung papak adalah orang udik. Karena kalau mereka hendak ke tempat kami mereka mengatakan pergi ke DASAN.

Jalan yang punya nama seingatku adalah dua saja, Selain jalan raya itu, ada Jalan Muhdar yang pendek, membentang dari masjid Mbung Papak sampai perempatan telkom, di depan telkom itulah banyak kantor tempatku betualang bagai agen CIA kecil. Yang kedua ada Jalan Manis. Jangan kaget, jalan Manis ini sama sekali tidak manis. Bentangannya panjang dari lapangan bayang kara sampai kuburan umum. Dan disepanjamg kiri kanannya ada parit. Aku sudah bilang tidak manis, bukan tidak ada gadis manis disana. Pemandangannya yang tidak manis, bagaimana tidak, sepanjang tepi jalan, berhadapan  njampen orang berak sesukanya. Kalau ada air masih lumayan tapi kalau tak ada air ya …ampuun. Alangkah buruknya perilaku manusia, bukankah kebersihan adalah bagian dari iman?

Penduduk disepanjang jalan ini mungkin banyak menanggung beban mental. Di ujung barat terletak Resot Polisi yang terkenal tempat menyiksa orang. 399 meter ke timur ada penjara tempat menyekap pongoran yang berseragam biru tua. Dan 299 meter dari penjara ke timur ada kuburan umum.

Anak-anak sering saling olok-olok, atau saling menakuti. Kalau sampai dilaporkan polisi atas kenakalannya mereka akan disiksa dan disel lalu dikirim ke penjara untuk disiksa lagi dan dikirim ke kubur dengan seragam biru. Malang sekali nasib orang dasan itu.

Pongoran yang menghuni bui Selong setiap hari dipongor membuat batu bata, di sebelah barat daya Lapangan Porda. Aku sering mandi  dengan batang pisang di kali dekat keren bata mereka. Kulihat mereka makan ubi atau jagung. Ada beberapa  kali pongoran melarikan diri, tapi kebanyakan kembali sendiri. Mereka tidak sampai hati menyusahkan pengawasnya yang berwajah teduh dan tak pernah marah. Kadang aku mendekati keren dan pengawas itu dingin tak bereaksi. Mungkin tempat kerjanya yang kelam mempengaruhi jiwanya jadi biru. Kalau siang mereka tetap bekerja kecuali makan dan shalat. Mereka tak pernah shalat berjamaah. Mungkin takut terseret di akhirat sebagai teman maling karena berjamaah semasa hidupnya dengan pongoran.  

Tiap subuh aku selalu terjaga mendengar paggilan azan yang sangat indah. Cerubek Bawi (megaphone) sudah ada dan suara Papuk Enab sang Merebot, berkumandang 5 kali sehari kecuali ada relawan yang lain menggantiaknnya, Ia bertindak sebagai imam dan sekaligus muazzin. Papuk juga bekerja sebagi penjaga kebersihan dan mengawasi kolam. Kalau di desa mereka menggunakan corong  dari seng untuk azan dan khotbah.

Hobiku bertualang sering bentrok dengan kedisiplinan Papuk mengurus masjid itu. Aku sering lari kencang dan mencebur ke kolam dihari yang panas atau hujan lebat. Air kolam jadi kotor. Meskipun aku sudah menyelidiki keberadaan Papuk, tapi ajaib dia selalu ada ketika aku mencebur dan membuat  kolam kotor. Dan Tib-tiba Papuk sudah berdiri dipintu manjid dengan pemukul beduk, menghardik kami dan melempar tongkat itu bagai pemain kasti nasional. Benturan tongkat itu meldak didinding kolam, aku dan anak lain melompat  lari lintang pukang, meninggalkan pakaia kami… telanjang bulat bersembunyi di rumah. Setelah reda kami kembali, biasanya saat akan azan.

Kami mengambil pakaian dan wudux bersam Papuk, oh betapa teduhnya wajah beliau, tak ada benci sama sekali padahal sejam dua jam yang lalu aku porak porandakan telaga kesayangannya. Kamipun sholat berjamaah sambil tertawa-tertawa tak tahan mengingat kelakuan kami.

Aku punya kenangan yang sangat indah saat bulan puasa, Papuk membagikan bantal (ketan berisi pisang raja) pada tengah malam saat  tadarus dimalam Ramadan. Aku tidur pulas, kakakku menjejalkan bantal dimulutku, aku terbangun, kulihat Papuk mengaji terus.

Siang hari Papuk aktif mengolah sawah diseputar masjjid. sekeliling kolam ditanami cabe dan kemangi. Penghuni asrama tentara di embung, sering meminta sayuran pada Papuk.

Suatu siang ada anak tentara yang datang, dia berkata: Papuk, saya disuruh ibu minta kemangi”. Papuk, Tanya: “ apa?”  anak itu mengulangi dengan pelan dan jelas ” Ibu menyuruh saya minta kemangi Papuk?”

Papuk yang tak begitu pandai berbahasa Indonesia menjawab dengan nada yang penuh welas asih : Nak, buang dirimu di telaga!” anak itu lari pulang karena takut. Bagaimana mungkin  Papuk menuyuruihnya lompat ke kolam sedangkan dia perlu kemangi.

Ahirnya, ibu anak itu datang, dan Tanya kenapa Papuk marah adakah anaknya membuat kesal. Papuk bilang tidak. Maka ibu itu bilang : saya mau minta kemangi, papuk”.

“ Oh ya,  silax kemangikan dirimu disana!”  Ibu itu bersungut-sungut pergi memetik kemangi.

Masjid kebanggaan kami punya dua hal lagi, selain kolam yang kubuat comberan itu. Papuk Enab dan Kapal terbang. Aku selalu duduk bersama misanku yang sekarang jadi lurah itu. Kami mengamati pesawat terbang yang menghiasi atap masjid, warnanya putih terbuat dari semen. Di dunia ini hanya masjid kami yang bisa didarati pesawat terbang. Arsiteknya tentu berpikir bahwa Agama dan kemajuan (science) harus jalan beriringan. Sebuah pemikian ultra modern bagi masyarakat udik seperti orang dasan kami. Tak kusangka kami telah hidup bersama pemikir besar di tempat terpencil itu.

Aku selalu memimpikan terbang mengelilingi dunia ini. Sepuluh tahun kemudian aku benar benar terbang dengan Singapore airlines yang terbesar pada masanya. Aku selalu ingat papuk Enab. Ia selalu memanggil jamaah diantara azan dan iqamah: “Semeton jari inax amax, silax te pade shalat berjamaah, tunax awal waktu!” Diulangnya beberapa kali dan hanya  tiga empat shaf diwaktu siang dan banyak diwaktu malam dan subuh.

Sekarang  tidak ada lagi pesawat, masjidku tersayang telah hilang, dan diganti Kubah besar sekali. Aku mengenang Papuk dengan suara yang parau menghimbau untuk shalat di awal waktu. Aku ingat orang-orang memenuhi shaf, wajah mereka tenang bersih dan tunduk.

Sekarang kemajuan telah dicapai, tak ada lagi yang njampen di pinggir kali, semua bergerak lebih cepat. Masjid-masjid dipenuhi untuk sekedar senam bersama 5 kali sehari.

Wajah –walah tak lagi teduh, kehidupan makin rumit, pengemis, pengangguran dan kriminal, tumbuh subur..

Bagaimana, harus kukatakan, betapa malangnya nasib tanah leluhurku, betapa hancur perasaanku. Anak-anak Sasak sedang menuju kehancuran yang tiada disadarinya. Ustadku memilih jadi pegawai, guruku telah berpulang, TUAN GURU telah tiada, mimbarnya tak pernah terisi. Siapa yang akan menjaga warisan leluhur yang mulia ini.

Semua bertarung dalam arena, tak ada wasit… waktu berputar dan akan menggilas tanah Seleparang jadi serpihan sejarah yang terlupakan.

Wallahu alam bissawab

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

(yang  kehilangan Pesawat dan TUAN GURU)

CERAI KARENA KAWIN

Friday, February 15th, 2008

Temanku si Rihip kawin waktu kelas 2 SMA, dan punya anak satu, banyak yang tahu tapi dia mengancam siapa saja, kalau sampai ada yang melaporkan ke sekolahan akan dia santet. Orang tuanyanya petani di daerah pedalaman.. Kawan satu ini berasal dari Lotim bagian utara dan wanen meski badannya kecil.

Si Kizu temanku yang lain kawin setamat SMA, dan langsung punya anak. Dia ini tinggal dan besar di Pancor. Orang tuanya seorang penguasaha ikan di Tanjung Luar. Meraka punya banyak barak penangkapan ikan di laut.

Si Simah kawin waktu kelas satu SMA dan itu untuk kedua kalinya. Orang tuanya petani dan peternak kerbau di Perbukitan Pijot sana. Mereka punya sawah luas meski tadah hujan dan beberapa kerbau yang menghasilkan susu.

Si Rihip bercerai dan tidak suka sekolah, sekarang dia bekerja jadi PNS ngurus orang desa. Kemungkinan besar waktu masukkan lamaran dia mengancam nyantet kepala kanwilnya kalau tidak diluluskan. Si Kizu jadi buruh bangunan karena tak sanggup meneruskan bisnis ayahnya yang cemerlang. Sedang si Simah entah berapa kali lagi dia  bercerai karena kawin. Dia bertani, tapi seperti halnya perkawinannya kebanyakan  gagal dari pada panen.

Tiga kawanku kukorbankan jadi bulan-bulan pada kesempatan ini, mereka tak tahu dan pembaca tak juga mengenalnya. Kalau aku ceritakan orang lain bisa timbul fitnah. Kalau kebetulan kawanku mengetahui tulisan yang membuatnya mukmer (muka merah), maka aku bersedia di sumpax senax dan ditambah nasi seponjol pun aku mau. Dari pada aku diam saja, tak ada gunanya punya teman yang khusus diturunkan Allah sebagai contoh bagi pendidikan generasi sekarang.

Kawin untuk cerai adalah salah satu kelakuan orang Sasak. Selain begawe, besual,  mudax nyelex , perot, ajum, mendat, dan lain-lain, masalah beseang atau bercerai sungguh mencengangkan banyaknya. Waktu aku kecil, aku suka betualang ke kantor-kantor dan gedung dewan. Kadang ke pengadilan negeri atau pengadilan agama. Sebagai anak kecil yang belum sekolah aku tak mengerti mengapa ada bapak-bapak pakai pakaian rapi berangkat pagi- pulang siang seperti orang kelelahan tiap hari. Dalam hati aku  bersumpah untuk tidak mengerjakan hal tolol seperti itu dalam hidupku. Lama-lama aku tau mereka adalah pegawa daerah.

Selama bertualang aku sering menghadiri sidang pencuri paling beken se dunia, namanya Bin Manyu. Entah berapa kali si maling ini keluar masuk bui yang di depan kebun raya itu. Selong dahulu punya kebun raya dengan pohon-pohon kenari raksasa yang biasa dipakai latihan memanjat dan meluncur oleh anggota kompi C di sebelahnya, jalan raya yang lengang  tapi bersih dan minaupaya yang penuh ikan besar-besar.

Belakangan aku dengar si Bin Manyu itu di buang ke Nusa Kambangan. Entah dunia mana itu. Ke luar Selong saja tak pernah, paling-paling Labuhan Haji, yang waktu itu aku kira dekat Jakarta. Jadi mana aku tahu  tempat yang bernama Nusa Kambangan. Yang pasti kata kakakku yang juga petualang sampi tua itu, tempat pembuangan si maling itu yang kebetulan mosot, adalah tempat yang mengerikan sekali. Aku sangat takut mendengar cerita itu.

Di dekat ruamhku, pada masa yang kemudian sekali, sesudah aku tahu apa itu pemda dan dewan serta pengadilan. Aku makin gak punya cita-cita pakai seragam, terus mondar-mandir dari rumah ke kantor ke rumah lagi, ngeri …banyak kulihat mereka akhirnya mati baik waktu masih mondar mandir atau sudah pensiun… aku melihat betapa malang manusia dalam hidupnya.

Maksduku didekat ruamahku, tiba-tiba terpampang pelang, Pengadilan Agama. Wah menarik perhatianku. Bagaiman agama sampai diadili. Yang satu pengadilan negeri, seharusnya yang diadili negara atau negeri tapi maling. Kini agama mau diadili.

Aku tertarik mendengar suara orang  bertanya dengan mengulang tiap pertanyaan dua-tiga kali dengan keras. Suara orang itu tegas dan mengandung nada perihatin yang tertahan. Bahasanya Sasak tapi logatnya Jawa.

Dia adalah hakim yang akan menghuni neraka atau surga, nanti kita akan saksikan dipengadilan yang sebernarnya. Dia bertanya: “Kembex De ngendeng beseang, ibu?” Aku melihat secara bergantian hakim dan ibu muda itu. Dalam hati aku kagum akan kecantikannya, sungguh wanita malang itu pastilah pernah atau selalu disakiti hatinya. Kaget aku mendengar jawabannya, “Cinta tiang wah buex! Cintaku sudah habis!”. Pak hakim menimpali, “Bau de pikrang malik ibu? Tiang embeng side waktu seminggu nggih?”

Wanita itu menjawab, “dendek, cintan tiang wah buek! Tidak, cintaku telah habis!”..

Lelaki dungu yang jadi suaminya, diam saja, kadang senyum pahit dan mukmer tapi tak berkata apapun. Wajahnya seperti orang ngenjen, ntah apa yang akan keluar…

Hatiku pilu dan ingin kutuliskan puisi untuk mencatat peristiwa yang mengguncangkan batinku itu, tapi otakku buntu, meskipun aku ngenjen tetap saja aku tak tahu bagaimana memulai. Kata yang tepat.

Perceraian adalah buah  dari perilaku yang kurang baik atau kebiasan buruk. Pada umumnya orang Sasak yang berdesak-desak hidupnya, karena tidak berani pergi merantau akhirnya kawin antar sesamanya, baik dalam satu keluarga besar, klan atau sesuku.

Di perkampungan padat seperti dasan-dasan di tanah Selaparang, kebanyakan penduduk masih bertalian persaudaraan satu sama lain. Hidup sperti terisolasi, maju sumpek, mundur nabrak, kekiri macet, ke kanan buntu…

Ketika berhimpitan inilah warga sering saling menyakiti, meskipun tidak pernah terpikir untuk bertidak demikian. Keperluan yang sama, keinginan yang sama, dapat di umpamakan di WC umum, apa yang terjadi kalau WC hanya dua dan ada 4 orang yang mencret?  Dalam keterdesakan seperti itu hilang akal, bahkan iman. Tinggallah tai yang bersimaha lela memerintah karena yang lain telah dilumpuhkan.

Dalam dusun sempit itu tumbuh berkembang anak-anak Sasak yang secara naluriah akan tiba saatnya kawin. Karena yang mengendalikan adalah nafsu maka akal dan iman tak pula berguna. Meski dilakukan dengan upacara adat dan agama akhirnya akan kandas juga mahligai yang coba di bangun.

Perceraian itu lambat laun terjadi karena akumulasi rasa benci yang teramat sangat. Cobalah lihat ke cermin dan bicarlah sendiri, anda akan tertawa. Tapi coba lihat pasangan anda dan angkat tangan kiri, ia akan angkat tangan kiri sebelum anda suruh. Kalau itu hanya kebetulan, sekarang tampar pipi sendiri ternyata pasangan anda juga menampar pipinya sendiri.

Mungkin itu terlalu berlebihan, tapi lihat baik-baik pasangan itu adalah serupa tapi tak sama dalam arti sama sifatnya, sama perilakunya, sama kesukaannya dan sama pengalaman hidupnya. Orang seperti itu akan saling membenci. Orang yang membeci pasangannya  pada dasarnya membenci  sesuatu yang merupakan bagian dari dirinya (persis sama) yang  kebetulan ada pada pasangannya itu. Hal –hal lain yang bukan merupakan bagian diri tidak akan berpengaruh. Saudara kembar bukan tapi sangat mirip, dan  kawin, janggal sekali…

Sepasang manusia yang dilahirkan di dasan yang sama, dari keturunan yang sama, bertumbuh kembang di lingkungan yang sama akan memiliki banyak kesamaan. Peri laku buruk, penyakit bawaan dan lain-lain.  “Bertebaranlah engkau dimuka bumi ini”, Firman Allah, untuk mencari rezeqi. Bukan hanya rezeqi makanan dan kebutuhan sehari- hari yang dimaksud tapi juga termasuk Jodoh, agar engkau saling kenal satu sama lain karena Allah menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa dan berbeda-beda…

“Buex wah cintan tiang! Habis sudah cintaku!”  Subhanallah, bagaimana mungkin perasaan cinta bisa hilang. Tembang yang rumit dapat ditulis partiturnya. Keindahan alam dapat diurai dengan puisi dan lukisan. Kesahduan dan kenikamatan cinta tak sanggup digambarkan dengan konsep yang nyata.

Apa itu cinta, telah banyak aku tanyakan kepada semua bangsa, duta besar, sutradara setingkat oscar, ratu kecantikan, menteri, penulis, jurnalis, kiyai, pendeta dan banyak lagi, tak ada yang dapat dengan singkat mendefinisikannya.

Kalau ada yang Tanya, apa itu gendang belex, dengan serta merta anak kecil dapat bercerita, ringkas den jelas. Tapi cinta, belum pernah manusia berhenti menuliskan, membicarakan, menyelami dan mengejar bayangannya. Tiada yang berhasil.

Orang-orang menyangka, kemeseraan adalah cinta, sex adalah cinta, kawin adalah cinta, berkeluarga adalah cinta. Bukan, bukan itu. Semua yang disebut tadi dapat musnah seketika. Sedangkan cinta tidak. Jadi makhluk apakah sebernarnya cinta itu?

Cinta adalah makhluk spiritual yang berkelompok dengan iman, akhlaq dan akidah. Astagfirullah al adhiim. Bagaimana mungkin cinta itu adalah makhluk yang berkaitan dengan hal spiritual itu.

Islam diturunkan sebagai Rahmatan lil alamin. Cinta atau kasih sayang bagi semua isi alam raya ini. Wujud cinta itu tidak ada, ia bagaikan penyakit, yang dapat dilihat dan dirasakan adalah gejalanya. 

Manusia yang ditumbuhkan dalam suasana kasih sayang yang berasal dari iman atas kebenaran dan dengan akhlak yang terpuji akan membentuk menusia yang memiliki akidah yang kuat. Semua hal spiritual itu akan menggejala dalam perilaku manusia sehari-hari. Semua dimanifestasikan dalam napas kehidupan bermasyarakat.

Akidah yang kuat akan mengendalikan manusia menjaga akhlaknya tetap mulia, akhlak mulia adah counterpart atau pasangan sejati iman yang benar dan setelah itu dijamin cinta dan kasih saaing bersemi ke seantero alam semesta ini.

Ketika Cinta dan kasih saying disemaikan oleh iman, dipupuk oleh alkhlag dan direngkuh oleh akidad itulah yang disebut Rahmatan lilalamin. Tiada rasa benci, dengki, talo ati, peratean, melax, melut, mele menang mesax dan sederet keburukan lagi terhapus atau tak akan sempat muncul sama sekali.

Wallahualam bissawab,

Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP