Archive for the ‘pendidikan’ Category

Sasak Napoleoniyah

Tuesday, March 18th, 2008

Assalamualaikum WR WB.

[…Kamu NW? Tidak. …Kamu Muhammdiyah? Tidak?… Kalau begitu aku tahu, kamu NU… kan? Tidak lah yao…Saya juga bukan HTI, bukan SI atau Parmusi, saya adalah asli SASAK NAPOLEONIYAH Bin Amax Kangkoeng!…]

Saya tak ada niat berdebat kusir tapi saya katakana bahwa TG dalam tulisan saya sebelumnya dan seterusnya mewakili siapapun yang menjadi pemimpin dalam agama Islam khususnya di LOMBOK. Tidak ada juga maksud menyindir salah satu, tetapi untuk semua. Pernah saya katakan mengenai sejarah, mengapa terjadi khaos pada Ummat Islam. Dikit dikit khaos! Inilah yang tidak disadari Ummat, bahwasanya kita sungguh sungguh telah dizalimi, dengan berbagai rekayasa tangan tangan Barat, dalam rangka agar mereka terus menerus menguasai kita dalam arti dari segala segi kehidupan.

Apapun dilakukan agar kita jangan sampai bersatu dan kuat. Jangan jagan tokoh religius kita juga sudah dikooptasi oleh kepentingan neoliberalisme. Lihat pendidikan kita makin menghilangkan pendidikan agama. Dahulu budi pekerti di hapus katanya sudah masuk Akhlaq yaitu salah satu cabang dalam mata pelajaran agama Islam bersama ibadah, tarikh dan B. Arab. Sekarang tidak ada yang sedetail itu. Kita menganggapnya suatu kemajuan, karena kita minder jadi bangsa bodoh. Kenapa bodoh? Karena dijajah dan dizalimi 500 tahun. Apa saja yang keluar dari mulut kita harus sesuai dengan pendapat guru kita sang penjajah. Mengapa Ekonomi kita dihajar krisis? Karean kita diatur segelintir orang. Kita ummat Islam mayoritas maka pangkat tertinggi sekedar MAYOR itu tadi, sedangkan Jenderalnya Orang lain…rasain kalian bangga sekali cuma jadi mayor…

Saya adalah generasi terakhir yang diajar budi pekerti dan pendidikan Agama Islam lengkap dengan Lima macam buku catatan… Sekarang orang tua dirumah tidak ambil pusing apakah anaknya mengaji atau tidak. Kita jangan asal tuding salah mengajarkan agama. Dahulu guru kita beloon beloon tetapi mereka tulus dan mereka mengajarkan impian impian mereka untuk melakukan kebaikan bagi kemaslahatan ummat manusia.

Mengapa diajarkan sifat Allah yang baik dan yang Jahat. Guru zaman dulu tak mampu memahami bahwa sifat itu adalah pasangan tak terpisahkan. Dan keduanya selalu ada dalam kehidupan manusia. Allah dengan kemaha asihnya mau disebut apa saja oleh, manusia yang terbatas akal fkiran dan bahkan khayalannya pun sesungguhnya tak sanggup berfungsi manakala hendak menggambarkan Allah. Karena keterbatasan guru maka yang dipegang adalah hal hal pokok!

Mari kita lihat bagaimana guru matematika dan bahasa mengajar. Jujur saja apa yang anda ingat selain dari pada rumus? Untuk apakah rumus rumus itu? Agar kita dapat mengeksekusi problem itu. Agar kita dapat memecahkan masalah. Jadi kebanyakan dari   ita pandai dalam hal pegang rumus. Saya yakin pembaca pasti ahli kalau disuruh memformulakan kalimat yang lengkap baik dan benar dalam BI. Tapi berapa orang dari
kita sanggup menuangkan ide dalam tulisan yang panjang, rapi, teliti, jelas dan cermat?

Kalau engkau ingin mengerti gelapnya malam, lihatlah siang. Kalau engkau ingin tahu indahnya hidup sehat cobalah sakit. Kalau engkau mau mersakan makanan enak, cobalah yang tidak enak. Jadi bagaimana kita terus menerus menyalahkan salah satu sifat yang diperkenalkan dan kita temui saban hari?

Apakah setelah merasa sakit, makan tidak enak, dan mengalami kegelapan malam, jadikah kita serta merta hanya memilih ketiganya dalam hidup ini dan hanya condong kepada ketiga hal itu? Justru sebaliknya kita jadi menghindarinya karena kita telah mengalami. Jadi sederhana bukan? Masalahnya adalah bahwa guru kita telah gagal memberi kita pengalaman dalam proses belajar. Bagaimana mau maju, berilmu dan memahami orang lain? Modalnya hanya rumus sih.

Mari kita lihat lagi contoh sederhana lainnya. Waktu saya ikut ikutan latihan bela diri. Semua anggota kajuman luar biasa. Masing masing inginmencoba jurus jurus maut untuk mengalahkan lawan. Itu karena anak anak terpesona oleh jurus jurus yang sebenarnya dapat diumpamakan rumus rumus itu. Guru silat bukanlah guru, mereka juga sama mentahnya karena baru beberapa bulan dilatih disulap jadi Dan 1. Coba tunggu setahun dua, mereka lelah dan makin matang, maka bila sampai waktunya akan ada kemewahan yang disebut kesadaran. Mengapa mewah karena hanya manusia yang punya kesadaran. Kesadaran itu didapat melalui waktu dan proses mengalami yang rumit dan abstrak. Apakah ajaran agama yang diperoleh sempat melewati waktu dan proses mengalami? Sungguh diragukan, karena masing masing diberi pengajian sesudah itu dilibatkan pada masalah profan. Dukunag politik, sumbangan dsb.

Kalau disekolahan lain lagi, anak anak belajar hanya untuk nilai ujian. Niat sudah beralih pada hal hal yang sangat praktis. Pendalaman makna sebuah ajaran tak akan sampai ke hati. Padahal pendidikan itu bertujuan membentuk watak yang kuat dan benar. Ayolah, kita semua tahu sudah tak adalagi guru di sekolahan gumi serlaparang ini. Mereka hanyalah pelatih atau instruktur dan pengajar. Pengajar hanya mentransfer informasi. Pelatih hanya memberi keterampilan tertentu. Guru adalah pendidik yang membimbing kepada pencapaian ilmu yang makin luas dan tinggi disertai akhlak yang mulia dan buahnya adalah amal Sholeh dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi guru berada di sisi
spiritual kehidupan manusia.

Bagaimana mungkin, TG atau Ustad atau Pengajar yang berasal dari murid murid dengan kemampuan akademis dibawah kebutuhan minimal, dapat membimbing anak manusia ke pada kemulian hidup? Lihat baik baik berapa orang yang berbondong bondong melamar jadi guru honor? Mereka seharusnya mencari pekerjaan lain karena tidak patut membimbing anak manusia, sebab apa?. Karena mereka cari hidup saja susah, tidak cukuk kecakapannya untuk bersaing didunia kerja lain. Dan kalau orang sperti itu mengajar maka buahnya adalah SDM yang tak bermutu, sehingga Bangsa Sasak terus menjadi maling, TKI ilegal dan anak anak serta orang tua jadi korban Busung lapar dan TBC.

Bangsa Sasak merasa modern mengikuti hukum asing bin aneh yang diimpor dari barat dan mencampakkan Hukum Sayariat yang sangat sesuai dengan kodratnya. Bagaimana mungkin Syariat Islamiyah dianggap lebih rendah dari pada Syariat Napoleniah. Bahkan nama hukum itu saja mereka tidak tahu, tetapi sangat bangga menjalankannya. Marilah kita belajar melihat segala sesuatu dengan jeli, mana yang merusak ummat singkirkan mana yang membangun ummat perbesar dan kuatkan. Kalau kita mau mulai dengan pendidikan akan lebih baik, tetapi membiarkan pengajar tidak kompeten masuk sekolahan/madrasah atau institusi lain, adalah kehancuran.

Bagaimana sesungguhnya Guru dalam tradisi Islam? Saya pernah dengar bahwa dizaman keemasan Islam, guru digaji tinggi dan diberi rumah dan kendaraan. Guru di zaman itu adalah ulama. Ulama yang sungguh akhli disegala bidang. Bagaimana kita mulai, komunitas Sasak dapat merintis Sekolah calon Guru untuk pendidikan ala Sasak. Gurunya sekurang kurangnya telah melewati pendidikan formal atau non formal. Dan sedikitnya telah membaca buku umpama 100 judul pertahun, jadi kalau yang direkrut setingkat S1 maka harus telah membaca 400 s/d 500 judul buku minimal, dibidang yang ditekuni atau segala bidang. Dan kemudian sanggup menuangkannya dalam silabus beserta buku pegangan pelajar.

Mendidik berarti memberi kesempatan kepada patner didik untuk mengalami ilmu dalam kenyataan. Pendidikan hendaknya diarahkan menjadi proses yang penuh konflik, tidak  seperti sekarang semua consensus. Pengajar berdiri dan bicara di depan patner didik  hanya setuju setuju. Belajar bukanlah mencatat dan melupakan setelah ujian, karena bila terus berlangsung demikian, cocoklah sudah peringatan Nabi Kita bahwa kelak ummat  yang selamat sangat sedikit. Jumlahnya bagaikan bulu putih pada sapi hitam.

Mula mula marilah melihat dari sudut Islam saja, jangan pakai Syariat Napoleniah kalau mau menyelesaikan masalah Bangsa Sasak. Buatlah mereka bangga menjadi Sasak Muslim yang besahaja.

Wallahu alam bissawab

Yang ikhkas,

Hazairin R. JUNEP

O gamax mase! O gamax tabeat!

Saturday, March 15th, 2008

O gamax mase! O gamax tabeat!

Ciceron sino penyaer Latin sax kebut gati, ye idup lex taon 43 Dexman Nabi Ise (43 DI). Sanget gati sedeh atene gitax kaum masene sax semele mele gawex ape juax sax ndex kenax. Pokoxne selapux dengan  nurutang kedeman mesax mesax. Kire kire marax masen te nane wah ruen dengan. Kerna ye seno pulitisi dit orator unggul, luwex gati
perongkatan sax te bait kawih perajahan tipax ite pade. Salax sopox ongkatne sax kebut;
” O tempora!` O mores!” arti Sasakne, O gamax mase! O gamax tabeat!

Semeton jari sax lex Gumi Selaparang, ndex obahne idup lex saman Ciceron seno. Coba serioxang pacu pacu masi ke luwex dengan mele ngaji sembahyang? Lamun masi pire dengan sax sembahyang, terus ne gawex ape sax te perentah six De Side Nenex Sax Kuwase? Pire dengan sax masi mele gitax kiri kawan, deket balen sax ndex maux mangan, sax sakit, sax anakne ndex besekole?. Terus pire luwex dengan sax bisang waktu beseneng seneng, begendang belex, begawe dit bekedekan?. Pire Tuan Guru sax ngajahan ngaji sejatine ngaji. Pire Tuan Guru sax boyax kepeng olexne jual ayat, atawe kelingkungang dengan agente paran paling digdaye terus te kultusang. Marax meno masyarakat ite lex saman sene. Kemakmuran sax te anteh anteh six dengan luwex, te bisang six komplotan, sak tesebut anggote dewan, pemerentah, Tuan Guru, LSM,ORMAS dit ape juax sax ndex mikirang kemakmuran dengan luwex.

Buktine wah betaon taon dengan Sasak ye kene kene dirix six busung lapar. Bilang mase gero, berelokan dengan dasan sax jaox pade mekir, lex kote. Dengan kote ye endah kepuse puse ne boyax pangan, sengax  selapux ajin kakenan seken mahal, pemete seken kurang. Ye ampoxne luwex gati bebajang, terune dit dedare Sasak, pade rarut bilin dese, bilang taon bebajang seno jari pekare lex gumin dengan sengax ndexne pade beduwe LIBAK (liwat jebak/Paspor). O gamax keluwex bebajang sax te buwi, luwex malik sax te bok bok terus te bolang ulex.

Maeh te pedasang pekare ape jax, sax jari lelasing selapux sax bekeleot bekelecang sene.
Bangse Sasak, laex laex ye kebut gati jari bangse sax tuhu, pacu dit patut, lamun base agame Islam ye sax tesebut dengan Sholeh dit Tawakkal. Lagux nane jax seken luwex menuse seken terix bayun (wibawa) lex selak kekancean dait bangse sax lain. Luwex dengan olex bangse lain sax taox, pekare dengan Sasak seno maling, tukang beseang, sedax anak mesax, matex baturn dit lain lain. Arax sekecot sekecot dengan sax masi inget, mun dengan Sasak seno manuse sholeh, lagux keselem six kebut aran maling.

Dengan Sasak, semule jatin dengan taat berugame, leman dateng Islam lex gumi Sasak, manuse sax wix biadab jari dengan tadah, beduwe ilmu dit seken bersi. Kemajuan segowar gowarne bau ne palex. Wahne sax jari dengan Selam ampoxne seke maju peradapan lex gumi Selaparang seno. Lagux mule meno nasip menuse, lamun seke maju dex ne sax bagus doang seke luwex. Kelengean endah beriuk tiwox lex mbe juax, semeno juax
dengan sax tepercayax, tehormatin marax base; Tuan Guru, inixne gawex pekare bingis tampe te ketaon six dengan luwex. Sengax selapux wah te lakar gawex (rekayasa), adexne sekedix sekedix bau te terimax dit te anggep biase six masyarakat.

Akah jati (akar persoalan) selapux sene, ye mulai olex ngkahne berentix lex Sareat sax biasen kawih jari tuntunan. Le x mase sene seken luwex dengan lupaang Al Qur’an, sengax mule wah te lakar suwe adexte pade suke rele ngelepas sareat seno. Kanak bajang wah luweaxan ndex ne tao base Sasak sax kenax dit tetu. Wah ndex ne taox berembe jage ruen kakenan dit kelambi kereng Sasak. Selapux dengan berarongan pade jari dengan gayebarux (modern).

Dengan sax ndot lex dasan dasan sax jaox lex tunggax gunung, lex sesongkang sedin gawah, lex dedoronan ape lex memontong, te bilin tais\ six kemajuan segale ruen. Lex taox seno masi te bau gitax berembe idup sene lampax ngiringin patoh (harmoni) asli (alam). Sengax selapux dengan sax teparan gawah seno masih ne kowat kowat berentix lex Sareat.

Ape seno sax teparan sareat, ye sino ajahan nurut agame Islam. Sax te mulai lex saman Gajah. Jari akah jati (inti) ajahan Slam seno ye tesebut Rahmatan lil alamin artine asex irox tipe selapuaxan isin gumi, ndex ne manuse doang, ndex ne jax dengan Slam doang , ndex ne jax sax idup doang lagu selapux ape juax mesti te tunang, te asih, te irox, te tersena. Anden selapux dengan Slam gawex prinsip seno, niscaye ambur gumi Selaparang six rezeki upax selapux dengan, terang six ilmu lex bilang bale bilang gubuk dengan.

Islam te jaux six Nabi Muhammad SAW. Ye arax lex gumi Mekah, lex jelo 20, bulan April taon 571 Wahne Ise (WI) . Kontex cerite Nabi suci seno jauxang ite Rahmah tipax selapuaxan dit Ye mesax jari turutan sax paling pantes te turut six dengan slam. Ye tesebut Uswatun Hasanah.

Nane sene lex gumi Selaparang dengan luwex pade kepusax, beboyax sai jax yax te dengah, sai yax jax te turut adex te pade rehayu (selamat sejahtera). Adexne jelap ngkah pekare lenge, busung lapar dit maling korupsi. Langan meno ite bau makmur dit bebajangte tiwox jari bangse sax mulie.

Lengan seno, bilang dengan mesti pedasang dengan dengan sax jari pemimpin atawe datu lex Gumi selaparang. Lamun ndexne terapang sifat sifat de Side Nabi SAW, dengan sino ndex sekali kali paut jari datunte.

Mene sifat sifat Nabino Seno:

1. Siddiq – Kenax atawe Tetu
De Side Nab ndex ne wah lekak mun bebase. Ndex ne wah gawex ape juax sax lenge.

2.Amanah – Jujur
De Side Nabi gawex selapux tugas dait kewajibanne tampe arax cacat.

3.Fatonah – Cerdas
De Side Nabi nutuxang selapux pekare tepat dit jelap/becat

4.Tabliq – bebadax ajah lex dengan luwex ape sax kenax dit tetu.

Wah sino Nabi endah kebut(terkenal) jari Menuse sax Sabar. Innallaha ma’asshobirin, Allah SWT barengin dengan sabar.

Arax sekex pesen De Side Nabi tipax ite ndah: ” Pade beriukm begawean jari m kawih lex dunie sene, marax dengan sax jax idup siyu taon dit beramal sholeh ntan m pade jari upax m lex aherat marax dengan sax jax mate lemak kelemax”

Aneh te pade beriux gawex,
selapux sax tesurux six agame,
dit te jaoxang dirix six pegawean sax lenge.
Wah seno kanggo te pedasang,
sai jax te pilex jari datu lemak jelo mudi.
Lamun ndexne cocok six sifat Nabi,
bau te sintat adexne nyedi…

Menu julux ndeh,

Nggax ne Nenex kaji sax kuwase doang sax paling taox

Sax ikhlas,

Hazairin R. JUNEP

Gramatika bahasa Sasak

Tuesday, March 11th, 2008

Ada sebuah peristiwa yang jarang orang tahu, bahwa bentuk kini dari seni keramik dan anyam di Banyu Mulek bukanlah asli lahir disitu. Memang kreatifitas bangsa Sasak dan ketekunannnya menganyam adalah salah satu kelebihan mereka. Tentu karya mereka sebelumnya sudah ada dan mencirikan genius lokal yang tak terbanding.

Seorang Bule melihat keistimewaan orang2 itu dan membawakan contoh grabah dan anyaman atau setidaknya desainnya lalu mengajarkan kepada bangsa Sasak teknik membuat barang2 tersebut. Kini jadilah bangsa Sasak salah satu pengrajin terkemuka dibidang gabah dan anyaman. Karya mereka menebar sampai Hollywood, bahkan saya pernah masuk restoran di Jepang yang khusus mendatangkan segala pernik hiasan dinding dan dekornya dari Lombok, rasanya saya ada di Rumah saat itu.

Orang2 Sasak membuat pola yang beraneka ragam sejak diperlihatkan contoh barang dan desain oleh bule iti. Mereka membuat kreatifitas lebih canggih dari barang yang dicontek. Dalam hal ini Bangsa Sasak sama unggul dan elegannya dengan orang Jepang yang membajak barang dan mengahsilakan barang yang lebih canggih dan bagus daripada buatan bangsa yang dibajaknya.

Apa maksudnya dan apa hubungannya dengan GRAMATIKA atau TATA BAHASA? Semeton, Tata bahasa/Grammer adalah desain atau formula yang kita peroleh dari mengamati barang jadi. Seperti Orang yang membuat grabah dan anyaman itu. Mereka lihat dan teliti barang yang ada lalu membuat desain dan pola pola unutk membuat yang lebih baik.

Orang Arab adalah bangsa yang mula2 dikenal pandai membuat syair. Kemudian di Eropah berkembang sastera lisan dan di Asia jauh lebih dahulu daripada Eropah. Tetapi kita macet karena penjajahan. Para filosof membuat aturan baku tentang berbahasa dari pengalaman mereka berinteraksi dengan karya2 sastera. Dan Jauh kemudian muncullah apa yang diamakan Grammer.

Pendidikan Monyet yang kita lewati ternyata sangat berpengaruh pada kehidupan kita saat ini. Kita dibiasakan menghapal rumus2 sejak SD sampai Kuliah. Baru duduk, guru bego langsung tancap menulis rumus. S-P-O-K kalau Bahasa Inggris mereka Bangga memberi rumus S-V1.2.3- O/C maka sim salabim kita puas jadi penghapal rumus begitu juga matematika dsb. Maka 99 persen murid gagal menggunakan pengalaman berbahasanya yang berupa senjata rumus2 itu.

Sekarang Kita sedang menysusn kamus BS. Alangkah semerawutnya, kita masing masing menyodorkan apa saja dan masing2 begejuh karena sama ahlinya atau sama begenya. Sekian lama hanya kurang dari 1000 kata yang terkumpul dan sudah diperas peras dari banyak kontributor. Mengapa demikian, tak lain karena kita belum pernah melakukannya dan kita tidak tahu berapa besar harta kita…

Bagaimana menyusun gramatika kita, sebagi saya katakana tadi para ahli bukan membuat kerangka dulu baru menulis bahasa tetapi dari karya satera mereka mengambil pola maka jadilah. Timbul pertanyaan, adakah karya satera Sasak yang kelasik atau kontemporer yang dapat dikatakan karya bagus sekelas, Sastera Arab, Spanyol, Inggris atau China dan Jepang? Saya belum pernah lihat semeton.

Kalau kita punya, buku yang bagus dalam Base Sasak maka dengan mudah kita memulai menyusun Gramatike Base Sasak itu. Lamun ndexte beduwe, dung silax beriuk seratang ite cerite kontex, cerite belo, pantun, syaer, puisi, novel dit sax lain endah.

Insayaallah saya telah mengangan2kan Kamus Universal Base Sasak dan Gramatikanya, semoga ada semeton jari yang dapat memberi masukan tentang keberadaan buku sastera Sasak yang bermutu bahasanya. Jangan sampai malah cerpen Lox Mosot dan Lox Bosok atau Si GON MM yang jadi rujukan… dung gak jadi berajah Gramatike tetapi pade bontah rerex…ino taranin grerex (grammer rerex).

Wallahu alam bissawab

Yang ikhlas
Hazairi R. JUNEP

Mana Kapal terbangku?

Saturday, February 16th, 2008

Dahulu sekali ketika Pak Bedor menjajakan bakso sambil memukul mangkok, keliling dari kampung ke kampung. Harga baksonya hanya Rp.10,- dollar amerika mungkin Rp.200,- saat itu.Kalau direktur BRI, mengundang orang-orang berpakaian rapi makan malam, kulihat mereka makan mi instant, yang masih langka di masa itu. Aku tahu semua karean aku anak kecil yang senang bertualang.

Masjid kebanggaan warga Selong hanya satu yang besar yaitu Masjid Mbung Papak. Desa khusus kota Selong, seperti disebutkan oleh tokoh penting saat itu, Bapak HM Amin Shaleh, dibagi beberapa dasan dan ada dua mbung papak, timur dan barat. Bagi orang Kampung Jawa dan Kampung Sembilan, kami penduduk mbung papak adalah orang udik. Karena kalau mereka hendak ke tempat kami mereka mengatakan pergi ke DASAN.

Jalan yang punya nama seingatku adalah dua saja, Selain jalan raya itu, ada Jalan Muhdar yang pendek, membentang dari masjid Mbung Papak sampai perempatan telkom, di depan telkom itulah banyak kantor tempatku betualang bagai agen CIA kecil. Yang kedua ada Jalan Manis. Jangan kaget, jalan Manis ini sama sekali tidak manis. Bentangannya panjang dari lapangan bayang kara sampai kuburan umum. Dan disepanjamg kiri kanannya ada parit. Aku sudah bilang tidak manis, bukan tidak ada gadis manis disana. Pemandangannya yang tidak manis, bagaimana tidak, sepanjang tepi jalan, berhadapan  njampen orang berak sesukanya. Kalau ada air masih lumayan tapi kalau tak ada air ya …ampuun. Alangkah buruknya perilaku manusia, bukankah kebersihan adalah bagian dari iman?

Penduduk disepanjang jalan ini mungkin banyak menanggung beban mental. Di ujung barat terletak Resot Polisi yang terkenal tempat menyiksa orang. 399 meter ke timur ada penjara tempat menyekap pongoran yang berseragam biru tua. Dan 299 meter dari penjara ke timur ada kuburan umum.

Anak-anak sering saling olok-olok, atau saling menakuti. Kalau sampai dilaporkan polisi atas kenakalannya mereka akan disiksa dan disel lalu dikirim ke penjara untuk disiksa lagi dan dikirim ke kubur dengan seragam biru. Malang sekali nasib orang dasan itu.

Pongoran yang menghuni bui Selong setiap hari dipongor membuat batu bata, di sebelah barat daya Lapangan Porda. Aku sering mandi  dengan batang pisang di kali dekat keren bata mereka. Kulihat mereka makan ubi atau jagung. Ada beberapa  kali pongoran melarikan diri, tapi kebanyakan kembali sendiri. Mereka tidak sampai hati menyusahkan pengawasnya yang berwajah teduh dan tak pernah marah. Kadang aku mendekati keren dan pengawas itu dingin tak bereaksi. Mungkin tempat kerjanya yang kelam mempengaruhi jiwanya jadi biru. Kalau siang mereka tetap bekerja kecuali makan dan shalat. Mereka tak pernah shalat berjamaah. Mungkin takut terseret di akhirat sebagai teman maling karena berjamaah semasa hidupnya dengan pongoran.  

Tiap subuh aku selalu terjaga mendengar paggilan azan yang sangat indah. Cerubek Bawi (megaphone) sudah ada dan suara Papuk Enab sang Merebot, berkumandang 5 kali sehari kecuali ada relawan yang lain menggantiaknnya, Ia bertindak sebagai imam dan sekaligus muazzin. Papuk juga bekerja sebagi penjaga kebersihan dan mengawasi kolam. Kalau di desa mereka menggunakan corong  dari seng untuk azan dan khotbah.

Hobiku bertualang sering bentrok dengan kedisiplinan Papuk mengurus masjid itu. Aku sering lari kencang dan mencebur ke kolam dihari yang panas atau hujan lebat. Air kolam jadi kotor. Meskipun aku sudah menyelidiki keberadaan Papuk, tapi ajaib dia selalu ada ketika aku mencebur dan membuat  kolam kotor. Dan Tib-tiba Papuk sudah berdiri dipintu manjid dengan pemukul beduk, menghardik kami dan melempar tongkat itu bagai pemain kasti nasional. Benturan tongkat itu meldak didinding kolam, aku dan anak lain melompat  lari lintang pukang, meninggalkan pakaia kami… telanjang bulat bersembunyi di rumah. Setelah reda kami kembali, biasanya saat akan azan.

Kami mengambil pakaian dan wudux bersam Papuk, oh betapa teduhnya wajah beliau, tak ada benci sama sekali padahal sejam dua jam yang lalu aku porak porandakan telaga kesayangannya. Kamipun sholat berjamaah sambil tertawa-tertawa tak tahan mengingat kelakuan kami.

Aku punya kenangan yang sangat indah saat bulan puasa, Papuk membagikan bantal (ketan berisi pisang raja) pada tengah malam saat  tadarus dimalam Ramadan. Aku tidur pulas, kakakku menjejalkan bantal dimulutku, aku terbangun, kulihat Papuk mengaji terus.

Siang hari Papuk aktif mengolah sawah diseputar masjjid. sekeliling kolam ditanami cabe dan kemangi. Penghuni asrama tentara di embung, sering meminta sayuran pada Papuk.

Suatu siang ada anak tentara yang datang, dia berkata: Papuk, saya disuruh ibu minta kemangi”. Papuk, Tanya: “ apa?”  anak itu mengulangi dengan pelan dan jelas ” Ibu menyuruh saya minta kemangi Papuk?”

Papuk yang tak begitu pandai berbahasa Indonesia menjawab dengan nada yang penuh welas asih : Nak, buang dirimu di telaga!” anak itu lari pulang karena takut. Bagaimana mungkin  Papuk menuyuruihnya lompat ke kolam sedangkan dia perlu kemangi.

Ahirnya, ibu anak itu datang, dan Tanya kenapa Papuk marah adakah anaknya membuat kesal. Papuk bilang tidak. Maka ibu itu bilang : saya mau minta kemangi, papuk”.

“ Oh ya,  silax kemangikan dirimu disana!”  Ibu itu bersungut-sungut pergi memetik kemangi.

Masjid kebanggaan kami punya dua hal lagi, selain kolam yang kubuat comberan itu. Papuk Enab dan Kapal terbang. Aku selalu duduk bersama misanku yang sekarang jadi lurah itu. Kami mengamati pesawat terbang yang menghiasi atap masjid, warnanya putih terbuat dari semen. Di dunia ini hanya masjid kami yang bisa didarati pesawat terbang. Arsiteknya tentu berpikir bahwa Agama dan kemajuan (science) harus jalan beriringan. Sebuah pemikian ultra modern bagi masyarakat udik seperti orang dasan kami. Tak kusangka kami telah hidup bersama pemikir besar di tempat terpencil itu.

Aku selalu memimpikan terbang mengelilingi dunia ini. Sepuluh tahun kemudian aku benar benar terbang dengan Singapore airlines yang terbesar pada masanya. Aku selalu ingat papuk Enab. Ia selalu memanggil jamaah diantara azan dan iqamah: “Semeton jari inax amax, silax te pade shalat berjamaah, tunax awal waktu!” Diulangnya beberapa kali dan hanya  tiga empat shaf diwaktu siang dan banyak diwaktu malam dan subuh.

Sekarang  tidak ada lagi pesawat, masjidku tersayang telah hilang, dan diganti Kubah besar sekali. Aku mengenang Papuk dengan suara yang parau menghimbau untuk shalat di awal waktu. Aku ingat orang-orang memenuhi shaf, wajah mereka tenang bersih dan tunduk.

Sekarang kemajuan telah dicapai, tak ada lagi yang njampen di pinggir kali, semua bergerak lebih cepat. Masjid-masjid dipenuhi untuk sekedar senam bersama 5 kali sehari.

Wajah –walah tak lagi teduh, kehidupan makin rumit, pengemis, pengangguran dan kriminal, tumbuh subur..

Bagaimana, harus kukatakan, betapa malangnya nasib tanah leluhurku, betapa hancur perasaanku. Anak-anak Sasak sedang menuju kehancuran yang tiada disadarinya. Ustadku memilih jadi pegawai, guruku telah berpulang, TUAN GURU telah tiada, mimbarnya tak pernah terisi. Siapa yang akan menjaga warisan leluhur yang mulia ini.

Semua bertarung dalam arena, tak ada wasit… waktu berputar dan akan menggilas tanah Seleparang jadi serpihan sejarah yang terlupakan.

Wallahu alam bissawab

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

(yang  kehilangan Pesawat dan TUAN GURU)

Hidup adalah pendidikan

Thursday, February 14th, 2008

Sesungguhnya hidup adalah pendidikan, karena tidak ada manusia yang selesai belajar tahu semua. Belajar dari buaian sampai ke liang lahat adalah ungkapan yang sangat dikenal orang Sasak.. Belajarlah hingga ke negeri China., kata orang bijak..

Yang lebih tegas lagi Allah memerintahkan tiap-tiap manusia wajib menuntut ilmu. Alam semesta adalah guru yang paling baik bagi manusia. Ketika lahir setiap bayi punya kemampuan daya tangkap yang sungguh luar biasa.

Dalam waktu 2 tahun, selama ia menyusu ibunya, ia sanggup menyerap seluruh informasi dasar untuk dapat berkomunikasi. Sampai umur 5 tahun seorang manusia telah menguasai 80% dari seluruh pengetahuannya selam hidup.

Ibu adalah madrasah utama bagi semua manusia. Orang muslim memiliki sistem hukum yang dapat menjawab segala persoalan hidup. Tiap manuasi dibimbing untuk tumbuh berkembang secara utuh.

Mula-mual fisik manusialah yang tumbuh dengan sangat pesat. Ketika mengalami pertumbuhan itu kesadaran akan waktu belum diperhatikan. Segalanya cepat berlalu dan tiba-tiba mulai menyadari lingkungan berputar bersamanya dan mulailah terasa adanya waktu sebagai bagian penting kehidupan ini.

Saat menyadari waktu mulailah tumbuh dan berkembang akal sehat. Setiap apa yang dilihat mulai direkam dan dikumpulkan dalam konsep- konsep yang berupa kumpulan informasi yang tertata rapi.

Setelah akal mulai mencapai perkembangan penuh tiba-tiba perasaan bergejolak tentang identitas diri. waktu kecil memang banyak tanya tapi itu sekedar reaksi dari pengaruh lingkungan. Kali ini kekuatan dahsyat mendorong untuk segera menemukan jati diri.

Tiap manusia diciptakan Allah secara istimewa. Tak ada manusia yang mau hidup dengan gaya yang persis sama dalam segala hal. Pasti masing-masing bertumbuh menurut gaya dan kodratnya.

Ibu telah menuntunnya menjadi manusia dengan watak dasar yang kuat, ayah membimbing bagai menyiram bunga agar subur dan indah. Ayahlah yang mengisi bagian yang penting selanjutnya, sedang ibu tinggal merestui saja.

Dalam masa pembentukan diri inilah saat yang genting bagi anak, dimana pengaruh usia sebaya, lingkungan dan masyarakat mulai menyusupi simpul kepribadiannya. Anak yang telah ditempa Ibu dan Ayah tidak gampang dipengaruhi, tapi kejahatan orang lain dapat menjebaknya. Apalagi kejahatan yang drencanakan secara sistematis.

Malangnya manusia tidak tahu persih kapan tiap tahapan itu mulai dan berhenti, hanya gambaran umum dari pengalaman sehari-harilah jadi patokan. Lebih malang lagi manusia sangat gampang lupa dan mengabaikan hal-hal detail mengenai perkembangan anaknya. Seolah pasrah begitu saja.

Adakah orangtua menyadari bahwa neraka adalah orang lain? Mereka ribut ketika tertimpa kemalangan yang menyangkut anaknya. Inilah sifat manusia Sasak, selalu berkutat pada akibat tanpa peduli akan hal-hal yang diabaikan selam ini sebagai sebab semua kekacauan.

Kasus narkoba pada anak, dimulai saat orang tua mengabaikan anak. Ketika ada orang tua yang terlalu sayang sehingga takut kehilangan anak. Rasa takut kehilangan anak itu membuatnya jadi manusia pengecut dan takut menolak permintaan anak. Mula-mula anak diberi apapun karena rasa sayang tapi lambat laun anak dikuasai dajjal dan takutlah orangtua kepadanya.

Masyarakat adalah mula-mula bagai anak kecil yang juga mengalami perkembangan seperti seoarng manusia. Masyarakat lebih mudah diolah dari luar dari pada seorang anak. Ibu membuai anaknya dengn sabar sampai habis napasnya, habis darahnya habis rambutnya untuk menumbuhkan anaknya agar jadi sehat, kuat dan hebat, berguna bagi nusa bangsa dan agama. Masihkan orang tua menanamkan cita-cita itu?

Masyarkat tidak membuat ibu siapapun jadi peot tapi mengahncurkan hati setiap ibu yang ada di bumi ini. Kalau sampai masayarakat tumbuh rusak. Makanan, pakaian, hiburan adalah pengganti ibu. Ketiga hal itu membuai ,menimang dan memabukkan masyarakat. Mereka tidak tumbuh seperti bayi sehat tapi jadi makhluk raksasa yang tak dapat mengekang hawa nafsunya.

Dalam kisah-kisah kuna sebernarnya tokoh pahlawan adalah cermin seorang anak ibu yang kukuh dan hebat dalam berjuang sedangkan Raksasa adalah makhluk besar bernama, komplotan, gang dan masyarakat yang bobrok , penuh akal bulus dan kultus individu.

Manusia sesungguhnya membutuhkan pendidikan untuk menumbuh kembangkan ketiga bagian dari dirinya yaitu badan/fisik, akal dan spiritualnya.

Ancaman yang paling berbahaya dari kehidupan modern adalah pendidikan ala pelatihan monyet yang mengukur keberhasilan dari kecakapan anak melakukan sesuatu. Kebutuhan mengembangkan ketiga kekuatan manusia yang diperintahkan Allah untuk sama-sama di awasi tidak dilaksakan. Akibatnya, kehancuran akhlak pertama-tama kemudian badan tidak sehat dan akalpun menghilang.

Kehidupan modern yang menuntut segala sesuatu harus berkembang dan menguntungkan membuat sekelompok raksasa tidak suka dengan keindahan, ketentraman dan kesejahteraan yang diperoleh dan dinikmati umat yang berpegang pada penjagaan dan pelestarian tiga kekuatan manusia itu.

Raksasa merancang untuk merusak sistem pertahanan umat dengan meniru cara ibu membesarkan anak. Mulai dengan memberi makanan enak, membuai dan menghancurkan, kesehatan badan, akal dan spritiual berturut-turut. Lewat media cetak, elektronik, sarana pendidikan , sarana hiburan dan sedikit demi sedikit yang haram disuramkan, yang halal disembunyikan maka semua nilai jadi berubah.

Tiba-tiba umat tunduk dengan segala aturan yang bertentangan dengan akidahnya. Manusia tidak lagi melakukan apa yang dituntun Allah tapi mereka berlomba melakukan apa yang dikehendakinya.

Karena semua sudah siap dan tampak benar dari segala sudut pandang, maka antek-antek raksasa menyusup keseluruh rumah penduduk. Dengan serentak dan dengan harmoni yang bagus tiap orang tiba-tiba merasa sudah pandai tanpa belajar.

Titel apa saja dapat disandang, dari sarjana , kiyai, tuan guru dll….Apa yang terlihat sekarang adalah penghancuran bangunan akidah dan akhlaq manusia Sasak. Bagaimana mungkin semua cendekiawan karbitan ini dapat mendorong Tuan Gurunya untuk mengerjakan barang kotor? Tuan Guru pada hakikatnya adalah guru yang harus mengajar dan menjaga akidah manusia. Politik adalah bagian dari tanggung jawab orang yang memang disiapkan untuk itu. Aapakah Tuan Guru sekarang ini juga karbitan, sehingga mau saja didorong-dorong melakukan hal yang tidak pantas dilakukan.

Memang Rasulullah memberi contoh, Beliau adalah presiden, jendral, da’i dll. Tapi jangan lupa Beliau mempersiapkan dan membina masyarakat 40 tahun untuk dapat melaksanakan apa yang menjadi impian Beliau. Tuan Guru dapat maju bila masyarakat itu mayoritasnya sudah berakhlak mulia dan beramal sholeh. Kalau belum maka disitulah Tuan Guru dipaksa oleh kewajibannya untuk memperjuangkan masyarakat yang demikian sampai berhasil.

Pernah suatu hari ditanyakan apa beda orang Sasak dan orang Minang? Selain bahasa dan adatnya, ada satu hal yang kontras yaitu: tiap 10 orang minang 9 menuntut ilmu, 1 naik haji kalau orang Sasak sebaliknya, 1 menuntut ilmu, 9 naik haji.

Orang yang menuntut ilmu dan pergi berhaji sepulangnya ia menemukan warganya penuh dengan hewan dan sedikit malaikat. Itulah sebabnya mereka memilih lebih mengasingkan diri tanpa meninggalkan kewajiban.

Manusia yang telah berhaji sangat dekat dengan sifat malaikat, kecuali masih nampak dan menempel dibumi, mereka melihat, mendengar, merasa, dan apa saja karena Allah. Bebisnis murni karena Allah, berjuang hanya karena Allah. Sedang hewan tidak pernah berhenti berkutat pada kesenangan duniawai.

Betapa banyaknya haji yang membangunkan tidur raksasa, lalu pasrah bergayut dikaki kekuasaan denawa itu. Seterusnya menjadi saksi pemerkosaan, pembantaian dan penghacuran manusi dan alam sekitarnya.

Inilah fakta gumi Selaparang, yang anak-naknya ribut diujung kejadian tapi sebab-sebab selalu diabaikan. Wallahualam bissawab

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP