Archive for the ‘sasak’ Category

IA RATU LABA TG

Wednesday, April 30th, 2008

Assalamulaikum WR WB

IA RATU LABA TG

Jangan tercengang dulu dengan judul tulisan ini, karena apa yang akan dipaparkan tidak berkaitan langsung dengan ekonomi atau MLM yang banyak ditekuni mahasiswa dan akhirnya kebanyakan gigit jari itu.

IA RATU LABA TG adalah singkatan dari Inax Amax Raden Tuan Lalu dan Baix, begitu semeton! Penting kita susuri asal usul sebutan yang sangat akrab di telinga dan dekat dihati bangsa Sasak. Mengingat bahwa  sepanjang diskusi di sesangkok KS ini terus menerus disinggung mengenai salah satu sebutan sasak itu, karena ketidak jelasan asal usulnya.

Dalam surat surat pribadi yang menjawab pertanyaan perorangan di KS  pernah saya ungkapkan serba sedikit soal itu tapi tidak menyeluruh. Kali ini semoga tak ada yang terlewatkan setidaknya untuk singkatan  yang disebut dalam judul ini.

INAX

Saya pernah berdiskusi dengan Bapak Sumenggep mengenai hierarki kebangsaan bangsa Sasak dan beliau mengutip penjelasan Lalu Sahak seorang budayawan Sasak (Ayahanda Lalu Satriawan) di Selong. Beliau  mengatakan bahwa hierarki kebangsaan Sasak yang tertinggi adalah Inax dan Amax. Pernyataan itu memprovokasi saya untuk mencari lebih jauh dan lebih jauh mengenai dari mana Bangsa Sasak mewarisi kedua sebutan istimewa itu. Dalam kisah dan dongeng dongeng Sasak yang paling kuno, semuanya bercerita tentang keberadaan Inax sekenox dan Amax sekenex (Inax dan Amax fulan). Tidak ada kisah yang menyebut nama nama yang kemudian kita ketahui seperti Raden lalu dan Baix.

Sebutan Inax ternyata terkait langsung dengan sejarah yang sangat kuno yaitu dari bangsa Sumeria yang hidup antara 3.500 - 2.500 SM. Bangsa ini mewariskan kebudayaannya kepada bangsa bangsa yang sekarang hidup di Timur Tengah. Bangsa Sumeria adalah bangsa yang sangat maju budaya dan bahasanya. Mereka memiliki seoarang Dewi yang disebut Inanna. Dewi kesuburan ini adalah Dewi yang banyak  disembah di zaman purba dengan nama nama berlainan sperti Ishtar, Asshtoreth, Isis, Aphrodit dan Venus.  Di Nusantara Dewi ini disebut dewi Sri.

Bagaimana bangsa Sasak dapat mengambil nama Dewi Sumeria itu tentu sebuah perjalanan sangat panjang. Bangsa Nusantara diketahui berasal dari anak benua India dan Yunan di India belakang sekarang wilayah  China. Melalui Bangsa Greek dan Romawi kemudian Persia dan India lagi mereka menyerap atau mewarisi, bukankah mereka adalah hasil akulturasi berbagai bagai bangsa dunia?

AMAX

Sebutan ini jauh lebih gampang sejarahnya dibanding Inax karena asal katanya mudah ditebak yaitu dari Bahasa Sanskerta, Kama yang berarti sperma. Dari kata kama ini lahirlah berbagai kata turunan seperti  Amax, Amix kemudian jadi Mamix. Bandingkan dengan kata mama (ibu) yang artinya susu kemudian menjadi mami. Dan jangan lupa orang Sasak suka mengatakan O Gamax… yang artinya aduhai Ayah!, Atau alangkah…, betapa…dst.

Kedua sebutan Inax dan Amax adalah warisan paling kuno yang dimiliki Bangsa Sasak maka itulah sebabnya oleh Lalu Sahak dikatakan sebagai hierarki tertinggi. Nama itu adalah simbol dewi dan dewa yang
dihormati bangsa Sasak kuno ketika mereka masih menyebah Roh.

TUAN dan RADEN

Di zaman feudal sejak sebelum berdirinya kerajaan Hindu di Nusantara, masyarakat hidup berkelompok dengan pemimpin mereka yang mengatur sebagai tuan tanah. Dalam bahasa Sanskerta Rahadian berarti tuan. Kata Tuan belakangan muncul karena berasal dari bahasa Nusantara dengan berabagai varian bunyi seperti Tun, Teuku, Tengku dan Tuang. Orang Sasak sangat aneh dalam mengambil sebutan itu. Mereka dapat dengan mudah menepelkan Tuan sebagai maksud seseorang telah menunaikan ibadah haji. Maksudnya adalah karena mereka ingin disejajarkan dengan Tuan tanah atau Rahadian yang dihormati itu. Sudah dapat hadiah sebutan Haji di Mekkah khusus bagi jamaah yang datang dari negeri yang jauh sekali. Di Lombokpun masih diberi gelar Cuma Cuma sebagi Tuan hatta mereka tidak punya tanah.

LALU

Sejarah sebutan ini agax suram tetapi coba kita perhatikan, bahwa rahadian itu berasal dari tanah Jawa tadinya hanya sekedar sebutan tetapi oknum tertentu mencantelkan sebutan itu tanpa malu malu sebagai
tambahan pada nama mereka. Setelah berakhirnya kerajaan kerajaan kecil Lombok yang kental akan  pengaruh Jawa terutama dan Bali, maka orang Sasak mulai membuat sebutan sendiri. Tentu tidak dapat menggunakan Tuan karena mereka bukan tuan tanah tetapi sebagai keturunan orang terhormat yang sudah
hilang kesaktiannya perlu mencantelkan sebutan tertentu. Dapat diapastikan ide itu datang dari keturunan para rahadian itu. Ingat Rahadian belum tentu raja. Maka proses kreatif mereka melahirkan sebutan LALU yang mencerminkan sebutan LA dari Ibu karena sebutan perempuan adalah La atau Le dan Lu dari sebutan Ayah karena laki laki disebut LU atau kemudian LOX. Demikianlah sekarang kita mendapati banyak orag Sasak menggunakan nama LALU.

BAIX

Sebutan untux seorang perempuan yang mengalir darah keturunan ditubuhnya tidak diambil dari bahasa Sanskerta umpamanya Empu atau dari bahasa melayu Puan. Karena orang Sasak juga memiliki warisan dari
bagian lain Asia yaitu Persia (Asia Barat). Di Negara Asia barat dan tengah ada satu sebutan yang popular yaitu Bay atau Beg (Bek) artinya Tuan. Dapat dilihat pada nama orang India dan Pakistan dan Uzbekistan
serta Asia Tengah Lain, menggunakan Bay atau Beg diakhir nama mereka. Sebagai bukti kuatnya warisan Persia kita bisa mendapatkan gambar Buraq di desa desa Lombok. Mereka adalah bangsa yang paling awal
datang ke Nusantara untuk menyebarkan Islam. Mengingat kebiasaan Orang Sasak yang dalam hal menyebut istrinya sebagai epen bale atau empu rumah atau yang punya rumah, maka  terjemahan kata itu adalah Tuan juga. Dengan senang hati mereka menempelkan sebutan Baix tetapi tidak dibelakang  melainkan didepan namalah dicantelkan.

TG

Seperti diuraikan dibagian TUAN dan RADEN bahwa orang Sasak senang main comot dalam menyebut orang, maka sebutan Tuan yang tadinya untuk Tuan Tanah (Rahadian) serta merta dicomot untuk menyebut siapa saja yang dihormati seperti kasus penyebutan haji menjadi Tuan itu.

Salah satu dari orang yang sangat dihormati di masa lalu adalah Guru. Orang Sasak yang polos itu juga langsung menyebut Guru mereka dengan Tuan sebagai wujud hormatnya. Yang celaka adalah baik Haji maupun Guru orang Sasak itu sama polosnya atau nakalnya dengan mereka tiba tiba dicantelkan juga sebutan itu sebagi bagian dari nama mereka baik resmi apalagi tidak resmi. Mungkin daripada orang tidak tahu bahwa oknum tersebut dihormati lebih baik mendahului menulis pengumuman dengan menambah nama di depan sebagai Tuan Guru dan Haji lagi. Kalau diterjemahkan maka artinya si fulan dengan titel itu adalah seseorang yang dihormati yang pekerjaannnya mengajar dan pernah bepergian jauh titik!

Soal titel titel itu bukan hanya kebiasaan Bangsa Sasak di kampung saya yang waktu pertama kali saya datang tidak ada TPA, sekarang bergelimpangan orang muda dengan sebutan KH padahal orang itu sekolah
saja tidak becus… Kiyai adalah sebutan untuk orang yang dianggap bisa berbuat sesuatu. Waktu ada acara kumpul kumpul dan diperlukan seseorang untuk membuat kata pengantar, maka peserta kasak kusuk  menunjuk seseorang dengan berkata iki ae! Iki ae! Capek capek ngomong berubah jadi kiyae! kiyai!  Artinya,ini saja atau dia saja… pada pertemuan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya orang yang sama
ditunjuk dengan omongan yang sama, setelah ingatan memudar orang itu mencantelkan sebutan di depan namanya Kyai tentu dengan ewoh pekewoh beberapa hari sesudah itu jadilah….KH artinya ini lo orang yang  sudah bepergian jauh….kalau perempuan mula mula disebut Nyah e! Nyonya ini! Lama lama jadi Nyai deh….

Ternyata hanya seperti itulah manusia, mengambil apa saja untuk menambah sesuatu, maksudnya agar tambah tinggilah martabatnya…usaha yang sia sia Martabat tinggi berarti setia menjaga harga diri dan punya rasa malu, kata Inax Amax kita.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf

Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP

SKAR dan DIU

Thursday, April 24th, 2008

Assalamualaikum WR WB

Sudah berpuluh tahun bangsa Sasak bersepakat menggunakan simbul lumbung padi sebagai mascotnya. Mascot diambil dari semangat hidup bangsa Sasak yang lekat dengan alam pertanian. Kepribadian bangsa
Sasak tergambar dari Lumbung yang menyimbulkan sifat sifat yang hati hati, menjaga keamakmuran dan kesejahteraan material dan ruhaniah.

Lumbung adalah tempat menyimpan makanan dan terdapat berugax dimana keluarga besar sangkep atau sebagai tempat menerima tamu. Makna Lumbung tidak hanya sekedar menyimbulkan tempat menyimpan padi tetapi juga pusat aktifitas social keseharian Bangsa sasak.

Akhir akhir ini ada usulan mengenai perubahan simbul untuk mascot itu menjadi Skardiu. Mari ikita lihat apa dan siapa Skardiu itu. Nama Skardiu berasal dari dua kata Sasanskerta Skar yang berarti kembang dan Diu berarti dewa atau langit. Sesungguhnya Skardiu adalah kuda tunggangan biasa, tentu yang kualitasnya bagus. Karena yang menunggang adalah seorang pemimpin seperti Amir Hamzah atau orang Sasak menyebutnya Amir Amsyiah.

Penggambaran kuda yang dapat terbang adalah untuk memberi kekutan luwih atau supernatural kepada pemiliknya yaituAmir Hamzah itu. Skardiu digambarkan sebagai campuran kuda semberani atau kuda troya  dalam mitologi Yunani dan Liong atau naga China. Ditambah pula dengan kisah tentang Buraq.

Dalam kisah wayang Sasak, sosok Wong Menak alias Amir Amsyiah disebut sebagai amiril mukminin yang memimpin pertempuran melawan para penentang Islam. Sebenarnya penggambaran itu sangat keliru karena
Islam tidak memerangi (bukan inisiator) tetapi membela diri karena diserang terus oleh musuhnya yang anti Islam itu.

Campuran mitos mitos multinasional itu membuat sosok Skardiu menjadi misterius. Memang itu yang dikehendaki oleh para penyusun cerita dalam wayang menak itu. Ada banyak ironi dalam presentasi sastera lewat wayang itu, disatu sisi ingin menyebarkan Islam yang berlandaskan ketauhidan dan rahmatan lilalamin, disatu sisi menyebarkan ajaran yang penuh takhyul sebagai tercermin pada sosok Amir Hamzah yang terus menggempur musuh dan menunggang kendaraan misterius bernama Skardiu.

Tiap bangsa di dunia selalu berusaha menggambarkan dirinya dengan membuat mascot yang sekiranya mewakili karakter tanah air dan bangsanya. Bangsa China menggunakan Panda, Bangsa Thailand  menggunakan Gajah, bangsa Jepang dengan Bunga Sakura dan bangsa Indonesia dengan burung Elang besar yang disebut garuda meniru mitologi Hindu. dsb.

Sekarang ini bangsa Sasak entah semua tahu atau tidak bahwa mereka digambarkan sebagai masyarakat makmur sejhtera (rahayu) melalui gambaran berupa Lumbung padi yang sekali lagi tidak hanya merupakan
tempat penyimpanan padi tetapi sebagai pusat aktifitas sosial keluarga dan masyarakat.

Apakah mascot lumbung yang sangat realistis itu dapat digantikan dengan mudah oleh sosok khayalan bernama Skardiu alias Kembang Dewa. Sebuah tantangan yang sangat berat ke masa depan. Karena pada saat
kita herus membangun masyarakat kita secara lebih realistis justeru kita dihadapakan pada cara berfikir ala dewa dewi.

Demikian dan maaf,
Wallahualam bissawab,

Yang ikhlas,
Hazairin R. JUNEP
(bekas pekatik)

Slogan atau Niat

Wednesday, April 9th, 2008

Assalamualaikum WR WB,

Siapa yang membuat slogan mestinya suda tahu dan faham akan apa yang ingin dicapai. Slogan partai politik yang teriak “akar rumput” pasti bukan untuk mencari akar wangi untuk menghias kampanyenya. Tetap mereka bermaksud merangkul rakyat jelata dengan memamerkan betapa meraka adalah pengayom rakyat jelata. Bahwa tanpa akar yang kuat tidak ada artinya rumput hidup.

Kemudian untuk menyebarkan slogan itu harus dibagikan pamplet berupa lembaran tulisan besar dan kecil yang mengembangkan ide besar dari slogan itu. Kalau slogan dapat dianggap sebagai visi maka pamplet dapat mengejawantahkannya dalam bentuk misi yang sekiranya dapat diwujudkan dalam action kelak.

Lombok mempunyai motto atau prinsip yang tertuang dalam kata kata yang mencerminkan visi masyarakatnya agar meberdayakan semua sumber dan kekuatan dalam rangka mencapi cita cita bersama.

Lombok Barat adalah yang paling dahulu mengangkat motto Patuh, Patut, Pacu dengan harapan besar bahwa visi itu akan termanifestasikan lewat misi dan aksi dalam pembangunan masyarakat. Patuh adalah taat azas, konsisten, tunduk atau tawaddu’. Patut adalah sopan, bersahaja, sesuai, proper. Pacu adalah rajin, tekun dan pantang menyerah.
Lombok Tengah mencoba mengetengahkan visi yang lebih cerdas lagi yaituT atas, Tuhu, Trasna . Karena masyarakat memiliki kebiasaan hangat-hangat tai ayam rupanya perlu didorong agar TATAS artinya segalasesuatu harus tuntas dengan kerja yang cerdas. TUHU diperlukan kareanbagaimana mungkin seseorang dapat tuntas bekerja tanapa ketekunan seperti Eddison yang menerangi dunia dengan listriknya?. TRASNA adalah karakter dari kedua visi sebelumnya. Tanpa rasa kasih bagaimana seseorang dapat mengabdi, tekun dan cerdas dalam membangun masyarakat luas?

Lombok Timur, seperti manusianya yang berwatak sederhana dan terus terang. Mereka mengajukan visi Patuh Karya. Karena masyarakatberkeyakinan bahwa manusia yang patuh yaitu yang tunduk, sami’na wa ato’na adalah manusia sejati. Oleh karena itu tidak ada lain kecuali mengerahkan seluruh tenaga untuk bekerja bahu membahu dalam membangun manusia dibidang material dan ruhaninya.

Motto harus menggunakan bahasa tinggi, belum pernah ada bangsa menggunakan selera pasar dalam memancang visinya. Orang Belanda dan Inggris saja mengunakan Bahasa Perancis dalam mottonya. Bangsa Indonesia memakai bahasa Sangsekerta. Isinya merupakan tekad bulat sebuah bangsa dan dipajang pula dalam dokumen kenegaraan. Sudah tentu sebagain rakyat juga tak tahu menahu soal motto itu. Karena yang utama adalah apapun yang menjadai kebijakan pemimpin harus merupakan pencerminan motto itu.

Mengapa kelihatannya slogan tidak sampai tujuan kecuali jadi pajangan di tepi jalan untuk pamer sekedar membanggakan diri? Semuanya kembali kepada siapa yang menjadai pemimpin pada saat itu. Ibarat orang muslim yang sholat tetapi tak tahu apa yang dibalik sholat itu bahkan niat saja tidak faham. Demikian gambaran pemimpin yang bercokol diseantero Lombok. Mereka tidak tahu apa yang tertera dalam visi yang kalau dalam
agama islam disebut sebagai niat. Kalau ada visi atau niat yang salah maka misi dan aksi akan keliru dan tidak akan mencapai tujuan bersama, bahkan bisa menimbulkan konflik berkepanjangan. Pemimpin yang tidak berakar di masyarakat, tidak dapat membaca niat bersama dengan baik. Apalagi kalau pemimpin itu dikendalikan oleh kelompoknya seperti
partai dan organisasi yang selama ini membesarkannya.

Kalau seseorang akan diajukan menjabat suatau posisi tertentu harus melalui tes kelayakan, mengapa para calon pemimpin di Lombok tidak melewati ujian semacam itu? Distulah akan ketahuan seorang itu adalah politisi busuk, negarawan, pemban atau babu partai dan organisasinya. Harus dikorek sampai sedalam mungkin mengenai pemahamannya akan visi daerahnya itu. Orang Amerika menggunakan jalur konvensi untuk menggasak siapa saja yang brani maju jadi calon pemimpin dengan begitu khalayak dapat membaca siapa dan kemana arah sang kandidat bila kelak memegang amanat. Pengalaman babak belur selama konvensi yang merupakan kawah candra dimuka adalah bekal paling hebat yang menempa besi karat menjadi baja.

Motto adalah kristalisasi dari pengalaman jasmani dan rohani dari generasi ke generasi. Bukan sekedar pajangan tetapi niat atau sumpah yang menjadi jiwa dari seluruh perjuangan dalam memajukan peri kehidupan rakyat dan negara. Slogan bisa kosong tetapi niat atau sumpah tidak mungkin diabaikan begitu saja. Seandainya Gajah Mada tidak bersumpah ” amukti palapa”, sangat diragukan bahwa dia dapat mencapi cita cita besarnya menyatukan Nusantara kita ini.

Rahayu Pemban Selaparang!

Demikian dan maaf
Wallahualambissawab.
Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP
(misionaris Kesasakan)

Dayang - Emban dan Inang

Tuesday, April 8th, 2008

Assalamualaikum WR WB

Emban adalah sebuah kata dasar golongan verba atau kata kerja yang berarti melaksanakan, mengawasi, menjaga, memelihara. Misalanya pada kalimat; Guru mengemban tugas berat untuk mencerdaskan generasi muda. Dalam bahasa Jawa kata kerja dan kata bendanya berbentuk sama. Selain arti diatas emban juga berarti inang pengasuh atau dayang dayang. Dayang sendiri berasal dari kata dyang, dieng, diu, dewi yang berarti bidadari atau dewi. Dengan berubahnya keadaan dari zaman kerajaan ke
zaman kemerdekaan, tradisi dayang dayang makin menghilang. Maka kata emban serta merta jatuh kepada penggunaan di rumah tangga yang dimulai dari orang kaya yang dapat mengupah pembantu untuk membereskan pekerjaan rumah.

Dengan maksud memperhalus bahasa, para tuan rumah tidak menyebut mereka sebagai babu. Babu adalah bahasa pasar kemungkinan besar berasal dari bayar bau/bahu. Babu adalah wanita upahan yang bekerja lepas misalnya mengangkat barang. Kalau laki laki disebut kuli dari kata pikul. Jadi kuli dahulu pekerjaannya mengangkut barang dengan
memikul. Kata kuli sudah masuk bahasa Inggris dan bahasa asing lain, tetapi babu tidak, karena sifatnya yang domestik.

Setiap kata dapat mengalami degradasi makna dari normal ke makna lebih rendah seperti emban itu. Tetapi banyak juga kata yang dulunya kasar atau kurang sopan menjadi kata normal dan sering diucapkan. Kata “sialan” adalah kata kutukan yang keji tetapi banyak orang menggerutu dengan mengatakan “sialan” tanpa membuat yang mendengar panik atau tersinggung.

Dahulu di Jawa orang memanggil ibunya dengan sebutan; “embok” atau “biyung” . Kedua kata itu sungguh indah diucapkan dan mendekatkan kedua orang anak dan ibu itu. Sekarang kata itu telah terperosok jatuh dan orang mulai memakai kata ibu atau mama dan lain lain. Emban berkaitan dengan kata empu, keduanya dapat berarti yang punya, yang melaksanakan. Kata emban kemudian menurunkan banyak kata baru dengan
tamabahan arti yang lebih luas. Siapakah yang melaksanakan tugas sebagai kepala kerajaan? Mereka dahulu disebut Panembahan, Pangeran dan Ratu.

Panembahan berarti orang yang disembah/hormati untuk melaksanakan tugas yaitu mengusahakan jalannya pemerintahan kerajaan. Pangeran adalah Orang yang mempunyai (empu) haran atau nama karena dari keturunan orang terhormat. Yaitu orang yang memanggul sebuah tanggung jawab yang diberikan oleh pengikutnya. Pemegang nama artinya pemegang jabatan. Ratu artinya yang punya tanah atau kerajaan. Rat artinya tanah, jadi ratu adalah orang yang dititipi oleh khalayak untuk mengusahakan pengaturan pengelolaan tanah kerajaan. Dahulu ada raja bernama Hamangkurat artinya Yang memangku (punya) Rat. Apa yang terjadi kemudian para pemangku jabatan itu berkomplot dengan sekelompok orang sedemikian rupa sehingga jadilah dia penguasa seolah khalayak telah memberinya kuasa penuh. Lihat Tuan (Raden) Wijaya yang  diberikan tanah garapan, selanjutnya dia jadi raja berkuasa.

Orang Sasak mengambil kata emban secara tidak langsung tetapi melalui  kata bentukan Panembahan. Sedangkan kata Inang yang juga artinya emban disambar begitu saja oleh orang Sasak untuk dipakai memanggil ibunya. Demikian juga orang Batak dan banyak bangsa di Nusantara.

Pemban adalah kata yang dibentuk dengan cantiknya dari kata panembahan yang berarti pengemban. Seorang yang dihormati oleh kelompoknya dan diberi tanggung jawab. Di zaman kerajaan mengemban tugas sebagai pemimpin. Rahayu Pemban Selaparang berarti Selamat Sejahtera Pengemban Amanat Rakyat. Selamat sejahtera bagi Pemimpin. Doa itu sangat indah karena Orang Sasak telah memilih seseorang untuk mengemban amanat sebagai pemimpin mereka. Hubungan Rakyat dengan rajanya dikala itu sangat dekat dan mereka saling mendoakan. Sang ratu atau datu juga berdoa ” Rahayu ing kaulade”  Selamat sejahtera pada para pengikut. Ingat pemban punya kawula atau pengikut seperti jamaah. Dengan demikian hubungan antara pemban dan kawula sengat dekat tidak  seperti pemimpin saat ini yang susah ditemui rakyat.

Pemban Selaparang adalah orang yang dipilih untuk menuntun dan mengusahakan kesejahteraan bersama. Dengan amanat itu mau tidak mau Pemban Selaparang haruslah orang yang lurus akidahnya, tinggi ilmunya dan zuhud dunia. Bersama rakyat ia berdoa dan memanifestasikan doanya dalam ibadah muamalah dalam peri kehidupan. Tanpa persyaratan itu mustahil tercapai Selaparang yang Rahayu.

Wallahualambissawab,

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas,
Hazairin R. JUNEP

Membangun Bisnis Sasak

Friday, April 4th, 2008

Assalamualaikum WR WB

Masyarakat Sasak adalah sekelompok orang yang mayoritas bergelut dibidang bidang pertanian, perikanan dan peternakan secara tradisional. Karena yang ingin kita bangun dan sedang kita soroti adalah bangsa Sasak maka kita tidak perlu berapologi dengan mencari hal yang sama pada bangsa lain.

Bangsa tradisonal ini menggantungkan hidupnya hampir keseluruhan akan kebutuhannya dari alam saja. Jumlah penduduk yang sangat besar dalam ruang kecil seluas 4.500 km persegi sewaktu waktu akan mencapai titik jenuh dan akan membawa bencana yang dibuat dan dirancang baik sadar atau tidak sadar oleh bngsa Sasak sendiri.

Konflik antar kelompok masyarakat akan sangat sering terjadi dalam skala yang semakin besar karena tiap individu melihat sesamanya sebagai lawan dalam kompetisi mencari sumber penghidupan yang semakin menyempit. Karena pertumbuhan penduduk melampaui kemampuan alam untuk menyediakan kebutuhan secara sejajar maka mulailah terjadi penjarahan terhadap alam yang diangap lamban dalam menjawab kebutuhan sebagain besar masyarakatnya.

Potensi yang tersedia melimpah ruah, tanah subur, ketersediaan air, kekhasan produk dan melimpahnya hasil laut tidak dapat dikembangkan dengan optimal. Banyak tanah dibiarkan terbengkalai, kehidupan petani dan nelayan semakin terpuruk karena perencanaan pembangunan baik yang menyangkut SDM maupun SDA tidak komprehensif.

Masyarakat tradisional yang terus bertambah jumlahnya dan tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah akan memperbanyak suplai tenaga kerja kasar dan tidak terampil. Tenaga kerja yang melimpah ini secara alamiah akan melimpah dan membanjiri daerah sekitar dan negara tetangga atau lebih yang jauh lagi.

Tenaga kerja imigran itu suatu saat akan pulang dengan membawa beban lebih besar dari pada sebelum meraka pergi. Uang mungkin diperoleh tetapi bersama kelimpahan material di satu sisi, permasalahan yang berkait hukum, kesehatan dan martabat yang hancur bergerombol disisi lainnya.

Pendidikan sejak masa kemerdekaan awal tidak sanggup mengantisipasi perubahan besar yang terjadi di masyarakat karena program pendidikan semakin hari semakin berubah dalam rangka menyesuaikan kebutuhan manusia modern. Tetapi apa yang terjadi di Gumi Selaparang adalah kurang sesuainya kenyataan masyarkat dengan apa yang ditawarkan oleh dunia pendidikan itu. Pendidikan dirancang untuk masyarakat modern sedangkan Orang Sasak masih hidup dan bergantung pada kemurahan alam secara tradisional. Pembangunan infrastruktur berupa jalan dan pelabuhan tidak serta merta menguntungkan para petani atau nelayan dan peternak karena mereka tidak dikembangkan bersamaan dengan pengembangan fasilitas itu.

Seharusnya sejak lama pemerintah yang mengelola tanah Selaparang itu mengambil contoh dari sejarah industrialisasi negera yang sudah maju. Dan mengikuti langkah langkah yang telah diambil sedemikian rupa sehinga setelah 100 tahun mereka tumbuh menjadi negara modern dan kaya. Orang sasak memang sering dikirim studi banding, tapi
kebanyakan hanya menikmati dan melihat kemajuan sekarang dengan ikut menghabiskan uan saku di pusat pusat wista dan bukan mengambil pelajaran dari apa yang telah dialamai bangsa maju itu ketika mereka masih tradisisonal seperti bangsa Sasak saat ini. Setiap hari kita selalu mendengar bahwa kita ketinggalan teknologi dengan Jepang sekian puluh tahun dibelakang atau dengan USA seratus tahun dan sebagainya tetapi ungkapan itu tidak serta merta menyadarkan kita bahwa, kita harus mengambil langkah yang tepat untuksegera menyamai bangsa besar itu.

Apa yang terjadi kemudian dan kemudian adalah sebatas lip service, orang orang yang berkuasa mulai bicara disana sini tentang kemajuan yang harus dicapai tapi setelah itu kosong melompong. Investasi bukan tidak ada tetapi bangsa Sasak belum siap secara maksimal memanfaatkannya. Sebagian besar dari investor mengalami kerugian sebagian lagi mengalami ketakutan luar biasa karena ternyata tenaga kerjanya kurang ketrampil dan tidak bersemangat.

Tahun delapanpuluhan sudah dirancang pabrik gula, dan perakitan sepeda motor Honda tetapi tidak berjalan karena baik pemerintah atau masyarakat sama sama tidak siap. Waktu itu infrastruktur tidak sanggup menyangga indsutri besar seperti itu. Kemudian Perancis mengirimkan peralatan rumah sakit untuk perawatan mata yang tercanggih dan pertama di Indonesia, alat alat mahal itu konon sampai rusak di Surabaya karena tidak kunjung diangkut ke Mataram. Pembangunan yang berkutat dari itu ke itu saja membuat semua kemajuan jadi stagnan.

Dari mana bangsa Sasak harus memulai? Masyarkat tradisonal itu harus diangkat perlahan lahan lewat teknologi sederhana di bidang bidang yang merak geluti. Pertanian yang mengarah pada produk unggulan dikembangkan dengan menguatkan terlebih dahulu kethanan pangan rakyat yang menjadi petani. Tanaman pangan ditingkatkan mutu dan jumlahnya. Baru kemudian menawarkan teknologi baru untuk memperoduksi komoditas unggulan.Perikanan juga harus demikian, mulai dengan mensejahterkan nelayan kemudian tawarkan program yang juga mengembangkan produk unggulan dibidang perikanan dan kelautan. Begitupun terhadap peternakan pemerintah melakukan hal yang sama dan serentak.

Industri yang mula mula harus dkembangkan adalah yang sesuai dengan kebutuhan dan peri kehidupan masyarakat Sasak. Ketergantungan dari Jawa dan Bali telah melumpuhkan sendi sendi kehidupan perekonomian bangsa Sasak. Semua orang membeli kebutuhan yang sebagian besar produk dari luar pulau. Seharusnya ada sebagian besar dari kebutuhan strategis tidak boleh didatangkan dengan bebas dari luar tetapi semaksimal mungkin mengembangkan potensi lokal.

Contoh yang paling nyata adalah pabrik alat pertanian di Kotaraja yang seratus persen ditujukan untuk keperluan masyarakatnya. Kemajuannya dapat ditiru oleh pihak lain utuk bidang yang berbeda. Kerajinan tangan dan produk kultural yang bermutu tidak akan berkembang optimal kalau infrastrukturnya tidak dikembangkan terlebih dahulu. Mengapa pasar bagi produk seni tingkat tingi itu kurang berjaya? Karena pemerintah hanya mengandalkan kekuatan alam saja. Mereka menganggap alam yang indah akan serta merta mendatangkan wisatawan yang akan menjadi pasar besar bagi kerajinan tangan bangsa Sasak. Tidak mungkin berhasil, banyak negeri dan bahkan pulau yang tidak seindah Selaparang tetapi berhasil mendatangkan turis besar. Rahasianya terletak pada perencanaan, pemanfaatan potensi yang ada dan promosi yang besar. Lombok tidak begitu dikenal oleh turis manca negara kecuali dari segelintir orang yang pernah datang. Turis turis itu datang karena jasa para pemandu wisata di bali atau Jogjakarta yang menjual program mereka secar optional. Optional artinya pilihan bebas, karena tidak termasuk dalam perogram yang telah dirancang dan dibeli oleh turis dan ketika ada sedikit waktu luang maka pandai pandainya pemandulah untuk merayau tamunya agar mau ke Lombok.

Mengapa bisnis orang Sasak jarang yang berhasil? Seperti disebut diatas bahwa bisnis pun harus sesuai dengan kenyataan hidup orang Sasak. Dahulu banyak pabrik sederhana yang membuat minyak goreng dari kelapa, karung goni, tenun, dsb. Mereka berhasil karena ada potensi penyerap produk yang besar. Tenun berkembang karena masyarakat membutuhkan kainnya, karung goni berkembang karena produk beras dan kedelai besar dan didukung oleh kinerja pelabuhan untuk pengangkut ke luar daerah.

Sekarang bangsa Sasak relatif tergantung dari impor apa saja dan akibatanya semua industri yang tidak dapat bersaing mati suri atau gulung tikar. Mengapa para pembuat gerabah semakin lenyap, mengapa para petani garam semakin hancur? Apalagi yang lebih besar seperti pengembangan rumput laut yang baru puluhan tahun umurnya. Jawabannya adalah bahwa, masyarakat tidak dibangun secara komprehensif. Gerabah tidak dibangun menjadi grabah yang kuta indah dan modern sehingga masyarakat masih mau memakainya sebagai alat rumah tangga dan bukan mengubah masyarakat jadi kolektor gerabah meniru niru turis. Para petani garam seharusnya dikembangkan agar mengahsilkan garam bermutu sehebat garam Spanyol dan dikembangkan labortorium sederhana untuk meningkatkan kandungan yodiumnya. Rumput laut sesungguhnya adalah potensi unggulan untuk ekspor karean kebutuhan untuk konsumsi lokal sangat terbatas. Kita tak dapat melakukan gebrakan sehingga masyarakat mau mengkonsumsi rumput laut lebih banyak karena memang kultur kita berbeda dengan Jepang yang serba laut. Untuk itu ada baiknya membangun pabrik kosmetik atau obat dan sejenisnya yang akan menampung hasil melimpah rumput laut itu

SDM yang besar yang akhirnya menjadi TKI dan pulang jadi penganggur lagi sangat berbahaya baik dari segi ekonomi maupun social budaya. Para TKI pulang dan membeli barang habis pakai atau membangun menara babel ditengah memontong. Membuat keganjilan tersendiri dalam masyarakat. Gaya hidup yang dibawa dari tanah rantau dipertontonkan karena cemoh leger (excited) dan orang kampung bangga dan gembira
mendapatkan saudaranya begitu lainrue (exotic) sehingga kloplah mereka menjadi manusia yang aneh di masayrakat luas.

Gerai kartu telpon, berdiri hampir disetiap gang, menandakan melimpahnya pemakai telpon seluler itu. Gaya hidup hedonis anak muda sekarang, akan menjadi bom waktu dikemudia hari. Bagaimana mereka dapat begitu hedonis dengan dukungan finansial orangtuanya tanpa mempersiapkan mental da spiritualnya untuk mengahadapi masa depan yang kompetitif dan serba cepat.

Bisnis dilingkunag orang Sasak tidak mudah, karena sikap mental yang terlalu menyederhanakan segala sesuatu. Kata kata “gampang”, ” nanti kita urus” dsb adalah ungkapan orang yang kurang siap berkompetisi. Lihatlah kios kios sepanjang gang di kampung atau dasan, tidak berkembang karena pembeli kebanyakan bilang:’Bait julux” langsung ambil dicatat dan entah kapan memabyarnya.Di bengkel bengkel orang yang datang menyervis cukup memberi sekedarnya dan berlalu karena yang punya bengkel pemalu atau blok ajum yang membeli pelit atau juga blok ajum. Yang punya bengkel merasa tak apa apa karena dianggap sesama kita tidak apa untuk saling membantu. Seabakliknya yang menggunakan jasa suka menyuruh orang saja dibalik kata “tulung” dan tak berpikir bahwa orang kerja perlu makan dan biayai anaknya. Kedua pihak baik
penjual jasa dan pengguna jasa tidak saling mendorong kearah perubahan positif.

Perilaku bangsa Sasak yang sejatinya merupakan bangsa tradisonal, haruslah dibenahi sedikit demi sedikit. Sikap mental kurang siap berbisnis dapat diatasi lewat pelatihan tiada henti. Dan pembangunan disegala bidang hanya akan berhasil guna dan berdaya guna (efisien dan efektif) kalau dimulai dengan memahami kebutuhan dan keberdaan bangsa Sasak yang tradisional itu.

Wallahualam bissawab,
Demikian dan Maaf

Yang ihlas,

Hazairin R. JUNEP
(sasak tegodek godek)