Archive for the ‘sejarah’ Category

IA RATU LABA TG

Wednesday, April 30th, 2008

Assalamulaikum WR WB

IA RATU LABA TG

Jangan tercengang dulu dengan judul tulisan ini, karena apa yang akan dipaparkan tidak berkaitan langsung dengan ekonomi atau MLM yang banyak ditekuni mahasiswa dan akhirnya kebanyakan gigit jari itu.

IA RATU LABA TG adalah singkatan dari Inax Amax Raden Tuan Lalu dan Baix, begitu semeton! Penting kita susuri asal usul sebutan yang sangat akrab di telinga dan dekat dihati bangsa Sasak. Mengingat bahwa  sepanjang diskusi di sesangkok KS ini terus menerus disinggung mengenai salah satu sebutan sasak itu, karena ketidak jelasan asal usulnya.

Dalam surat surat pribadi yang menjawab pertanyaan perorangan di KS  pernah saya ungkapkan serba sedikit soal itu tapi tidak menyeluruh. Kali ini semoga tak ada yang terlewatkan setidaknya untuk singkatan  yang disebut dalam judul ini.

INAX

Saya pernah berdiskusi dengan Bapak Sumenggep mengenai hierarki kebangsaan bangsa Sasak dan beliau mengutip penjelasan Lalu Sahak seorang budayawan Sasak (Ayahanda Lalu Satriawan) di Selong. Beliau  mengatakan bahwa hierarki kebangsaan Sasak yang tertinggi adalah Inax dan Amax. Pernyataan itu memprovokasi saya untuk mencari lebih jauh dan lebih jauh mengenai dari mana Bangsa Sasak mewarisi kedua sebutan istimewa itu. Dalam kisah dan dongeng dongeng Sasak yang paling kuno, semuanya bercerita tentang keberadaan Inax sekenox dan Amax sekenex (Inax dan Amax fulan). Tidak ada kisah yang menyebut nama nama yang kemudian kita ketahui seperti Raden lalu dan Baix.

Sebutan Inax ternyata terkait langsung dengan sejarah yang sangat kuno yaitu dari bangsa Sumeria yang hidup antara 3.500 - 2.500 SM. Bangsa ini mewariskan kebudayaannya kepada bangsa bangsa yang sekarang hidup di Timur Tengah. Bangsa Sumeria adalah bangsa yang sangat maju budaya dan bahasanya. Mereka memiliki seoarang Dewi yang disebut Inanna. Dewi kesuburan ini adalah Dewi yang banyak  disembah di zaman purba dengan nama nama berlainan sperti Ishtar, Asshtoreth, Isis, Aphrodit dan Venus.  Di Nusantara Dewi ini disebut dewi Sri.

Bagaimana bangsa Sasak dapat mengambil nama Dewi Sumeria itu tentu sebuah perjalanan sangat panjang. Bangsa Nusantara diketahui berasal dari anak benua India dan Yunan di India belakang sekarang wilayah  China. Melalui Bangsa Greek dan Romawi kemudian Persia dan India lagi mereka menyerap atau mewarisi, bukankah mereka adalah hasil akulturasi berbagai bagai bangsa dunia?

AMAX

Sebutan ini jauh lebih gampang sejarahnya dibanding Inax karena asal katanya mudah ditebak yaitu dari Bahasa Sanskerta, Kama yang berarti sperma. Dari kata kama ini lahirlah berbagai kata turunan seperti  Amax, Amix kemudian jadi Mamix. Bandingkan dengan kata mama (ibu) yang artinya susu kemudian menjadi mami. Dan jangan lupa orang Sasak suka mengatakan O Gamax… yang artinya aduhai Ayah!, Atau alangkah…, betapa…dst.

Kedua sebutan Inax dan Amax adalah warisan paling kuno yang dimiliki Bangsa Sasak maka itulah sebabnya oleh Lalu Sahak dikatakan sebagai hierarki tertinggi. Nama itu adalah simbol dewi dan dewa yang
dihormati bangsa Sasak kuno ketika mereka masih menyebah Roh.

TUAN dan RADEN

Di zaman feudal sejak sebelum berdirinya kerajaan Hindu di Nusantara, masyarakat hidup berkelompok dengan pemimpin mereka yang mengatur sebagai tuan tanah. Dalam bahasa Sanskerta Rahadian berarti tuan. Kata Tuan belakangan muncul karena berasal dari bahasa Nusantara dengan berabagai varian bunyi seperti Tun, Teuku, Tengku dan Tuang. Orang Sasak sangat aneh dalam mengambil sebutan itu. Mereka dapat dengan mudah menepelkan Tuan sebagai maksud seseorang telah menunaikan ibadah haji. Maksudnya adalah karena mereka ingin disejajarkan dengan Tuan tanah atau Rahadian yang dihormati itu. Sudah dapat hadiah sebutan Haji di Mekkah khusus bagi jamaah yang datang dari negeri yang jauh sekali. Di Lombokpun masih diberi gelar Cuma Cuma sebagi Tuan hatta mereka tidak punya tanah.

LALU

Sejarah sebutan ini agax suram tetapi coba kita perhatikan, bahwa rahadian itu berasal dari tanah Jawa tadinya hanya sekedar sebutan tetapi oknum tertentu mencantelkan sebutan itu tanpa malu malu sebagai
tambahan pada nama mereka. Setelah berakhirnya kerajaan kerajaan kecil Lombok yang kental akan  pengaruh Jawa terutama dan Bali, maka orang Sasak mulai membuat sebutan sendiri. Tentu tidak dapat menggunakan Tuan karena mereka bukan tuan tanah tetapi sebagai keturunan orang terhormat yang sudah
hilang kesaktiannya perlu mencantelkan sebutan tertentu. Dapat diapastikan ide itu datang dari keturunan para rahadian itu. Ingat Rahadian belum tentu raja. Maka proses kreatif mereka melahirkan sebutan LALU yang mencerminkan sebutan LA dari Ibu karena sebutan perempuan adalah La atau Le dan Lu dari sebutan Ayah karena laki laki disebut LU atau kemudian LOX. Demikianlah sekarang kita mendapati banyak orag Sasak menggunakan nama LALU.

BAIX

Sebutan untux seorang perempuan yang mengalir darah keturunan ditubuhnya tidak diambil dari bahasa Sanskerta umpamanya Empu atau dari bahasa melayu Puan. Karena orang Sasak juga memiliki warisan dari
bagian lain Asia yaitu Persia (Asia Barat). Di Negara Asia barat dan tengah ada satu sebutan yang popular yaitu Bay atau Beg (Bek) artinya Tuan. Dapat dilihat pada nama orang India dan Pakistan dan Uzbekistan
serta Asia Tengah Lain, menggunakan Bay atau Beg diakhir nama mereka. Sebagai bukti kuatnya warisan Persia kita bisa mendapatkan gambar Buraq di desa desa Lombok. Mereka adalah bangsa yang paling awal
datang ke Nusantara untuk menyebarkan Islam. Mengingat kebiasaan Orang Sasak yang dalam hal menyebut istrinya sebagai epen bale atau empu rumah atau yang punya rumah, maka  terjemahan kata itu adalah Tuan juga. Dengan senang hati mereka menempelkan sebutan Baix tetapi tidak dibelakang  melainkan didepan namalah dicantelkan.

TG

Seperti diuraikan dibagian TUAN dan RADEN bahwa orang Sasak senang main comot dalam menyebut orang, maka sebutan Tuan yang tadinya untuk Tuan Tanah (Rahadian) serta merta dicomot untuk menyebut siapa saja yang dihormati seperti kasus penyebutan haji menjadi Tuan itu.

Salah satu dari orang yang sangat dihormati di masa lalu adalah Guru. Orang Sasak yang polos itu juga langsung menyebut Guru mereka dengan Tuan sebagai wujud hormatnya. Yang celaka adalah baik Haji maupun Guru orang Sasak itu sama polosnya atau nakalnya dengan mereka tiba tiba dicantelkan juga sebutan itu sebagi bagian dari nama mereka baik resmi apalagi tidak resmi. Mungkin daripada orang tidak tahu bahwa oknum tersebut dihormati lebih baik mendahului menulis pengumuman dengan menambah nama di depan sebagai Tuan Guru dan Haji lagi. Kalau diterjemahkan maka artinya si fulan dengan titel itu adalah seseorang yang dihormati yang pekerjaannnya mengajar dan pernah bepergian jauh titik!

Soal titel titel itu bukan hanya kebiasaan Bangsa Sasak di kampung saya yang waktu pertama kali saya datang tidak ada TPA, sekarang bergelimpangan orang muda dengan sebutan KH padahal orang itu sekolah
saja tidak becus… Kiyai adalah sebutan untuk orang yang dianggap bisa berbuat sesuatu. Waktu ada acara kumpul kumpul dan diperlukan seseorang untuk membuat kata pengantar, maka peserta kasak kusuk  menunjuk seseorang dengan berkata iki ae! Iki ae! Capek capek ngomong berubah jadi kiyae! kiyai!  Artinya,ini saja atau dia saja… pada pertemuan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya orang yang sama
ditunjuk dengan omongan yang sama, setelah ingatan memudar orang itu mencantelkan sebutan di depan namanya Kyai tentu dengan ewoh pekewoh beberapa hari sesudah itu jadilah….KH artinya ini lo orang yang  sudah bepergian jauh….kalau perempuan mula mula disebut Nyah e! Nyonya ini! Lama lama jadi Nyai deh….

Ternyata hanya seperti itulah manusia, mengambil apa saja untuk menambah sesuatu, maksudnya agar tambah tinggilah martabatnya…usaha yang sia sia Martabat tinggi berarti setia menjaga harga diri dan punya rasa malu, kata Inax Amax kita.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf

Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP

Kemarau panjang di Lombok

Sunday, April 20th, 2008

Kemarau panjang di Lombok paling lama tambah 2 bulan saja karena musim hujan mundur sampai desember yang seharusnya oktober sudah mulai basah. Kejadian itu sudah sejak zaman dahulu sebagai efek perubahan
iklim oleh meningkatnya suhu laut di pasifik.Tapi khusu mengenai apa yang diceritakan Yus adalah sebuah senepa (sindiran) bahwa Gumi Selaparang tanpa datu benar2 terasa panas leteng (tiada tentram) di hati warganya. Bayangkan situasi sesudah jatuhnya Pak Harto, setelah meletus G30S PKI dan sesudah kerusuhan2 yang beruntun di Lombok. Keadaan sangat memeperihatinkan. Di Lombok ini sepanjang sejarahnya, banyak mengalami khaos (kerusuhan) karena selalu terjadi ketidakadilan dimana-mana.

Meskipun kemarau hanya tambah 2 bulan tapi keadaan geografis Lombok yang cendrung kering dapat memusnahkan harapan panen. Karena padi zaman dahulu panennya 6 bulan. Kalau air menghilang pada bulan ke 5 saja pasti gagal apalagi sebelumnya. Dari pengalaman gagal mencapai umur itu, orang Sasak mempunyai kebijakan memanen hijau padinya kemudian padi disangrai lalu ditumbuk. Beras sangrai itu sangat wangi dan sedap tapi tak mencukupi kebutuhan karena kurang sekali.Maka mereka mengkonsumsi semua umbi2 an,seperti uwi, sudax dan bahkan gadung atau nasi kering yang disangrai. Dahulu nasi keringnya juga sedap karena padinya bermutu sehingga nasi tidak basi. Tidak seperti nasi aking zaman kini yang cocok untuk pakan babi saja.

Beberapa kali bencana gunung meletus, tapi belum pernah besar sekali sampai menelan banyak korban. Kalau dilihat dari potensi alam Lombok dengan jumlah penduduk yang sedikit tidak seharusnya terjadi  kekurangan pangan karena hasil panen tiap tahun melimpah. Saya ingat waktu kecil, lumbung kami penuh untuk waktu satu tahun dan masih separuh ketika kami menebar benih di musim tanam berikutnya.  Kelemahan orang Sasak adalah dalam hal penanganan paska panen. Itu tidak hanya di sektor pertanian, perikanan juga masih seperti itu. Dahulu para nelayan adalah orang yang paling pertama menikamti segala fasilitas terbaik karena kalau panen uang melimpah dan dipakai untuk memborong apa saja dan ketika paceklik barangnya tidak laku dijual. Begitu setrusnya sampi bertahun tahun.

Kelak akan terjadi bencana yang lebih besar berupa kerusushan lagi disebabkan oleh ketidak adilan lagi. Kemiskinan yang dipelihara bahkan jadi proyek baik oleh pemerintah atau LSM akan membuahkan bencana yang tak terperi.

Mari kita berjuang menyelamatkan Bangsa Sasak dari ancaman dahsyat kerusuhan (khaos) yang pasti akan terulang itu, dengan memikirkan dan berbuat hal hal kecil yang mengarah pada pembangunan harkat  martabat Bangsa sasak.

Islam mengajarkan kita berfikir sederhana, bertindak sederhana dan hidup sederhana. Berfikir sederhana yaitu memikirkan hal hal yang dapat kita mengerti dan sekiranya dapat dilaksanakan menurut kapasitas
kita. Bertindak sederhana berarti memberi solusi kepada suatu masalah dengan kemampuan yang ada. Hutang tak boleh diselesaikan dengan hutang baru. Kemarau dapat diatasi dengan menanam satu pohon di pekarangan rumah misalnya atau menggali sumur resapan. Dan hidup sederhana adalah menjaga keseimbangan kebutuhan fisik dan rohani. Hidup hedonis harus dihindari, anak2 tidak seharusnya diberi fasilitas berlebih. Bagaimana mungkin orang pergi haji sedangkan masyarakatnya sangat terbelakang?
Kalau jujur dan taat pastilah uang tak akan cukup untuk bayar ongkos haji, karena sedekah, infak dan zakat untuk menyelamatkan manusia jauh lebih utama.Bukan kah haji itu dapat diumpamakan atap bangunan? Belum bikin fondasi rumah dengan baik kok atap dipasang, ya ambruklah…

Bencana yang datang tak dapat dihentikan tetapi ia dapat dicegah dengan berjuang dan bersahabat dengan alam semesta dan penghuninya.

Itulah prinsip Rahmatan lil alamin…

Wallahualambissawab

Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

ABG dan Selaparang

Sunday, April 20th, 2008

ARYA BANJAR GETAS dan SELAPARANG

0). Mari kita senantiasa berusaha tetap tuhu membangun Bangse Sasak Lewat KS ini dengan memberi satu detik dan satu huruf sebisa mungkin. Tulisan makin banyak dan lebih serius, tetapi mari berekspresi dengan
perasaan lepas dan terbuka. Tidak usah kita berpikir terlalu berat, bahwa akan begini atau begitu atau diam diam punya impian yang rasanya susah dimaterialisasikan saat ini. Kita biarkan semua berkembang alamiah dengan terus mengasah diri, pasti suatu saat akan ada hasil yang tidak pernah kita bayangkan hebatnya.

1). Meskipun agak terlambat, saya ingin menangapi permintaan semeton kita M Ramadan tentang Arya Banjar Getas (ABG), dan Nazar ttg Kembang Kuning. Saya sangat kesulitan mengingat kisah2 yang pernah saya dengar waktu kecil. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar adanya buku yang menerangkan tentang ABG secara utuh. Siapa dia, keturunan siapa  tidak diketahui tetapi dia menurunkan raja2 kerajaan Langko pernah saya dengar. Sebenarnya saya menunggu reaksi dari Zul Labulia atau semeton lain yang menekuni  sejarah Lombok, tapi belum keluar juga informasi yang lebih komplit. Angaplah ini sebagi pancingan.

ABG adalah seorang patih di Selaparang sampai 1670. Pada tahun 1668-1669 Kerajaan GELGEL yang berambisi menaklukkan Selaparang mengirim ekspedisi tetapi gagal. Ketika itu ABG sebagai patih selaparang sedang konflik dengan rajanya, maka dia serta merta main mata dengan GELGEL. ABG mula mula lari ke Pejanggik, ia menetap dan mengabdi disana. Mulailah ABG bermain api dengan menyeret Pejanggik  bergabung dengan pasukan Karang Asem karena ada rumor bahwa pasukan penyerbu itu akan menggempur Pejanggik.

Pada 1672 mereka menggempur Selaparang yang lemah dan hancur leburlah pusat kerajaan dengan seluruh penguasanya mati. Sebagian besar penduduk melarikan diri ke berbagai tempat di sepanjang wilayah LOTIM.
Salah satu desa tempat mereka tinggal adalah Teros. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama dengan  bahasa Selaparang. Dan tetangga mereka yang bersal dari keturunan Sengkol (Pejanggik) ikut menetap di  pedusunan Kembang Kuning dekat teros.

Pada 1686 Kerjaan Mataram Karang Asem membumi hanguskan Pejanggik. Sebelum itu semua kerajaan yang kecil2 diluluh lantakkan. Sejak itu kerajaan Mataram Karang Asem berdaulat penuh atas Lombok. Sebenarnya Selaparang dan Pejanggik serta semua kerajaan kecil2 itu bertalian satu sama lain, pada tahun 1648 seorang Pangeran Selaparang keturunan/Trah Pejanggik diangkat oleh Gowa sebagai administrator (gubernur jendral) di Sumbawa. Ini juga dapat membuka tabir mengapa hubungan Bangsa Sasak dan Sumbawa sangat erat sehingga banyak desa di LOTIM dihuni Bangsa Samawa . Selain karena adanya pengiriman pasukan saat perang Bali Lombok dan lebih2 setelah meletusnya Gunung Tambora 1815.

Seluruh pemparan diatas selain dari data tahun, merupakan file2 ingatan saya yang suram

2). Kepada anggota sesangkok yang tinggal di Jogja dan sekitarnya, silakan sangkep kapan2 kalau mau kopi darat bisa di Pakem. Tidak usah mengagendekan acara yang rumit, hanya berjumpa saja cukup sebagai  permulaan. Khususon semeton Sulye Jati, gak usah khawatir, surat bisa disimpan dan kapan saja dapat  dikirim. Selamat menempa diri dan terus maju…

Wallahualambissawab
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP